Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Kebenciannya terhadap Jogja

KENAPA saya mengurungkan, atau minimal menunda sampai entah kapan penerbitan buku "Orde Los Stang: 10 Tahun Indonesia Di Bawah SBY". Karena sifat paling mencolok dari figur ini adalah "denial".  

Ia adalah penyangkal sepanjang sejarah hidupnya. Saya bisa bercerita A-Z tentang dirinya, siapa sesungguhnya ayah kandung sebenarnya, masa depannya yang suram selulus SMA, perkawinan pertamanya yang selalu disangkal itu, bla bla bla.

Berbagai cara licik playing victims ia naik ke puncak tertinggi eksekutif, hingga sejumlah banyak kasus korupsi yang menjeratnya. Hingga terakhir perannya sebagai otak intelektual di balik kerusuhan di berbagai kota dengan diundangkannya UU Cipta Kerja.

Benang merah dan out-put-nya sama: menyangkal! Dengan demikian, penulisan buku Orde Lost Stang hanya akan berakhir pada (minimal menurut saya) daftar kebohongan yang toh akhirnya disangkal.

Buku ini kalaupun terbit, juga tak akan mungkin menyangkal sejarah nyata bahwa ia berhasil berdiri tegak 10 tahun berkuasa. Walau  dengan trik dan intrik yang menurut saya paling kotor di masa Indonesia modern ini.

Ia bagi saya adalah peletak dasar rapuh demokrasi NKRI yang paling nyata. Ia bukti bahwa modernitas itu sama sekali tak ada hubungannya dengan keberadaban, kemajuan, dan kemanusiaan.

Karena saya bukan pencari sensasi: deal buku itu saya batalkan. Biar data dan informasi itu mandeg di kepala dan PC saya...

Saya lebih tertarik menepati janji saya kepada kawan2 saya untuk menuliskan kenapa SBY sedemikian bermasalah dengan kota dan provinsi dimana saya dilahirkan  dan dibesarkan: Jogja.

Bila melihat berbagai dokumentasi foto keluarga SBY, mustinya premis di atas batal atau (juga) tersangkal. Dalam banyak moment foto keluarga, saat masih utuh: keluarga ini selalu ajeg jika menggunakan busana tradisional Jawa.

Ia memilih gaya Mataraman Jogja. Dengan surjan dan blangkon yang sangat Jogja. Begitu pun gelungan konde dan kebaya yang dipakai Ani dan mantu2nya sangat Jogja. Ketika anak2nya menikah pun ia menggunakan gaya Jogja dan paes (juru rias) dari Jogja. Kurang Jogja apa ia..

Tapi justru di sinilah masalahnya! Ia sangat paham Jogja, dengan sangat..... Ia sangat memahami bahwa menguasai Jogja adalah menguasai Indonesia! Buktinya ia mampu melakukan dalam sepotong sejarah hidupnya. Dan secara sadar ingin mengulangnya.

Dalam satu kesempatan setelah ia lengser, di dalam sebuah forum partainya: ia mengakui bahwa titik paling kritis kariernya terjadi di Jogja. Apa yang sebut awal mula ia bermain politik. Saat ia berpangkat Kolonel dan menjadi Danrem 072 Pamungkas yang areanya adalah Provinsi DIY (plus Karesiden Kedu).

Sekitar tahun 1997, saat demo mahasiswa menuntut mundurnya Soeharto. Alih2 mengikuti perintah komandannya dan instruksi Pusat. Untuk menindak tegas para aktivis. Ia justru menjalin hubungan dan membina mereka. Bukan hal yang sulit, untuk terendus. Dan hal tersebut mendapat teguran yang sangat keras.

Salah satu figur "binaan"-nya yang paling terkenal adalah Andi Arief. Tokoh PRD yang akhirnya menjadi politikus di bawah bendera Partai Demokrat. Sejenis "anjing penggonggong" yang terakhir redup kariernya karena tersangkut kasus narkoba dan perempuan di sebuah hotel di Jakarta.

Dan seperti biasa, ia menyangkal walau terbukti posistif. Sempat ditahan beberapa saat, sebelum akhirnya dilepaskan. Entah atas dasar apa pembebasannya.

Kembali, kenapa SBY sedemikian "bermasalah" dengan Jogja? Hingga akronimnya sering dipanjangkan sebagai SBY: Sumber Bencana Yogya? Sesungguhnya, tidak juga bisa disalahkan kepada dirinya secara tunggal.

Karena yang menghendaki, pembubaran DIY dari daerah istimewa menjadi provinsi yang sama dengan yang lainnya. Bukan hanya dirinya. Bisa disebut di sini adalah Amien Rais yang dedengkot PAN, yang anak2nya pada gagal nyalon sebagai calon walikota atau bupati itu.

Juga dari kalangan internal kraton sendiri, yang sudah lama "tidak satu suara". Banyak sekali yang tidak ingin DIY tetap istimewa, hanya karena perselisihan, pembagian konsesi ini itu. Yang abadi cuma satu: ketidak adilannya itu.

Pada saat genting itulah, rakyat Jogja bergerak. Saya tidak pernah melihat rakyat Jogja yang plural itu bisa sedemikian mudah disatukan oleh satu isu yang sama. Moment yang melahirkan sebuah lagu hip-hop Jawa, yang belakangan (saya setuju).

Lagu Jogja Istimewa yang dilarang keras penciptanya untuk aktivitas politik partai mana pun. Ia diminta "berhenti sebagai" dan dijadikan tonggak perlawanan, sekaligus persatuan masyarakat Jogja. Sebuah kebijakan khas Jogja yang penting guyub rukun.

Suatu momen, yang sialnya justru memukul balik Pemerintah Pusat. Menyadarkan bahwa Jakarta itu tidak sekedar punya hutang masa lalu jasa moral-spiritual, tetapi sekaligus utang uang yang harus dikembalikan.

Dan ketika UUD Keistimewaan Jogja terwujud. Pemerintah Pusat harus mengakui realitas bahwa Jogja adalah wilayah yang secara hukum terintegrasi dengan NKRI, tapi secara sosial-budaya ia merdeka dibanding wilayah provinsi lainnya.

Dan ujungnya, RI harus membayar utang masa lalu dalam format duit khusus yang namanya "Dana Keistimewaan". Hal itu bukan saja memukul SBY, tapi terutama mempermalukannya. Bukan saja kalah, tapi ia harus membayar. Dan itu mahal.

Dan jika, hari2 ini ada benteng di pojok Timur-Utara, yang semula runtuh. Bagai warga Jogja, munculnya Pojok Beteng ini adalah "keajaiban". Bagaimana mungkin beteng yang telah diruntuhkan Inggris pada masa Geger Sepei ini bisa dibangun kembali.

Debatable, bila bicara apa manafaatnya. Tapi yang jelas ia bisa hadir sebagai simbol bahwa posisi Kraton masih kuat bila tak bisa dibilang makin kukuh. Namun sebaliknya, bagi saya itu simbol kekalahan abadi SBY dan segenap pendukung de-Istimewa-nisasi Jogja. Ia bukan saja menohok muka namun sekaligus nurani mereka.

Dalam konteks inilah, saya sangat bisa memahami kenapa mereka membakar "Restoran Legian" yang secara geografis terletak di pojokan selatan Gedung DPRD Tk. 1 DIY. Kenapa bukan yang lain? Kenapa mesti Legian, dan cuma itu?
 
Bagi pemerintah kota dan masyarakat Jogja, Malioboro adalah kawasan steril. Ia tak boleh digunakan untuk kegiatan politik apa pun. Kampanye tidak boleh melewati jalan ini, hanya pawai dan carnaval budaya yang diperbolehkan.

Itu pun sifatnya menghilir dari Utara ke Selatan. Pernah ada aktivis budaya yang sok menantang. Melakukannya dengan cara sebaliknya dari Selatan ke Utara. Tak lama kemudian ia "bablas".

Orang modern dan kekinian selalu gagal membaca, ketika harus menafsirkan sumbu imajiner kota Jogja. Hubungan antara Gunung Merapi, Kraton, dan Laut Selatan. Nanti kali lain saya akan bercerita tentang betapa mistis-nya pemaknaan hal ini.

Bukan sekadar arah hulu-hilir, tapi bagaimana perkongsian ini menjaga harmoni Jogja. Dan jelas Jalan Malioboro adalah sumbu terpentingnya yang minimal menjadi ruang bersih tapi sekaligus profan yang menjembatani antara Kraton, Alun-alun, Kepatihan dan Tugu.
 
Dalam kasus yang kemarin lalu itu, banyak kesaksian bahwa Restoran Legian dibakar. Setelah iringan2 kelompok Partai Demokrat berorasi di atas mobil. Siapa dia? Heri Sebayang.

Orang yang sama sekali "bukan Jogja", sama sebangun dengan orang2 yang mebakar Legian tak satu pun dikenal sebagai warga Jogja. Mereka adalah perusuh2 yang didatangkan dari luar kota. Jelas massa bayaran, yang entah dari mana.

Sebagian yang tertangkap, telah  mengakui perannya itu? SBY, Demokrat, dan kadernya seperti biasa menyangkal. Tentu sambil klitihih2 minggir menyingkir.
Dalam kasus demo UU Cipta Kerja, saya selalu menyangsikan ketulusan dari gagasan itu.

Bukan kali ini saja, tapi sejak moment "Gejayan Memangil" lalu. Terlalu mudah dibaca, kenapa ada "pembiaran" pembakaran di sana-sini. Dan secara dungu, seorang pengamat politik menganggap tidak satu-nya "TNI-Polri".

Dengan teks polisi bekerja keras, TNI membiarkan pendemo. Saya selalu yakin, siapa pun penguasa negeri ini memiliki informasi intelejen terbaik. Sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Membiarkan "sebagian kota" sedikit terbakar adalah cara paling gampang untuk "tunjuk idung" dan memberangus musuh.
 
Dan eng ing eng, SBY dengan wajah remuknya, kembali menyangkal: Bukan dia yang dimaksud LP. GN lenyap, ketika aktivis jalanan dan otak lapangannya ditangkap. Dan semua itu harus ada bukti. Bagi yang "polos dan unyu2", ketahuilah begitulah manuver kontra-intelejen dijalankan.

Saya bisa banyak bercerita tentang hal ini. Tapi saya hanya ingin bilang, SBY itu tidak salah2 amat. Ia justru baik, sebagai seorang anak penurut dan mikul dhuwur mendem jero terhadap orang tuanya.

Ia bersedia meneruskan rasa benci "ayahnya" terhadap tanah kelahirannya.  Ia memperpanjang konflik antar siapa yang anak padang dan kebo peteng.  Berhasil berkuasa di Indonesia, tapi gagal menguasai seupil tlatah bertuah.

Ia adalah perpanjangan rasa sakit hati dan kebencian yang tak mudah berakhir. Entah sampai kapan...

Sumber: Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo, 15 Oktober 2020.

Auto Europe Car Rental