Siapa Bilang Murid SMP Tidak Kreatif
Meski bukan pemenang Pre-pensi, sebagai band penghibur, penampilan mereka cukup memikat. Dua lagu dimainkan : 'Pangeran Cinta' dari Dewa dan 'Sang Penghibur' yang dipopulerkan Padi.
Penampilannya disambut sorak-sorai. Memang, penonton sudah menantikan penampilan grup band yang digawangi Evan sebagai vokalis, Yosef sebagai drumer, Hugo sebagai keyboardis, Danny S sebagai basis, Sonny sebagai gitaris, Aldo sebagai gitaris dan Wilman sebagai gitaris.
Setelah itu, acara dilanjutkan doa pembuka dan kata pengantar dari Suster Kepala SMPK Santa Clara, Suster Benedicta Suhananti MC. Disusul penampilan cheerleader oleh siswi Kelas 8 dan 9, paduan suara oleh Santa Clara Voice (SCV), dan grup band yang menjadi pemenang 1, 2, dan 3 dalam lomba band pre-pensi.
Pengisi acara dalam pentas seni ini adalah para pemenang dari lomba prepensi yang telah diadakan sebelumnya, yang telah diseleksi terlebih dahulu, seperti grup band, nyanyi duet, koor, tari modern, dan piano. Namun ada pula pengisi acara yang diluar lomba pre-pensi, seperti break dance, berbalas pantun, dan operet.
Band yang menjadi pemenang dalam lomba pre-pensi dan tampil di pentas seni adalah Palal on 6 oleh Wilman, dkk, juara pertama, The Fishbone oleh Andre dkk, juara kedua dan terakhir Panic oleh Dendy dkk yang menjadi juara ketiga.
Sedangkan pemenang lomba paduan suara (koor) adalah Bea dkk yang menjadi juara pertama, Elen dkk yang menjadi juara kedua, dan yang terakhir adalah Natalie dkk yang menjadi juara ketiga.
Break dance dan berbalas pantun tidak dilombakan karena bersifat sukarela. Artinya, murid-murid dapat mengikuti acara itu. Mereka boleh memilih tidak ikut. Break dance diisi murid-murid Kelas 7, 8, dan 9, yang ikut secara sukarela. Sedangkan operet diisi murid-murid Kelas 9, memainkan Barbie : The Princess and The Pauper.
Acara yang ditampilkan dalam pentas seni membuktikan, masih ada siswa - siswi yang mampu berkreasi dan berorganisasi di era globalisasi ini. Siswa Kelas 9 menyatakan bangga dan senang atas hasil kerja keras mereka. Apalagi, itu merupakan hasil dari tangan mereka sendiri.
Tengoklah, karena mulai dari pengumpulan dana, pengisian acara, sampai keamanan dan konsumsi, semuanya dilakukan oleh murid Kelas 9. Pengalaman berorganisasi ini kelak dapat menjadi bekal dalam berorganisasi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan saat terjun di masyarakat.
Persiapan memang tak semulus pelaksanaannya. Cukup bikin keringat dingin bagi siswa-siswi Kelas 9, dan panitia pentas seni. Ketika pelaksanaan pentas seni tinggal beberapa hari, panitai masih butuh dana kurang lebih Rp 30 juta.
Di masa krisis seperti sekarang, uang sejumlah itu, sangat besar. Nyaris, tak ada waktu cukup untuk mengumpulkan. Tapi dengan kerja keras dan semangat, pada akhirnya mereka mampu mengumpulkan Rp 30 juta.
Bahkan, panitia memperoleh dana lebih dari yang mereka butuhkan. Suatu hal yang sangat fantastis dan sulit dipercaya. Tentu saja, pengalaman dan kejadian ini akan sangat membekas di hati mereka.
Acara yang selesai pukul 22.00 WIB, banyak dihadiri warga SMPK Santa Clara, baik siswa, guru, dan orangtua/wali. Ada juga siswa dari sekolah lain. “Tak ada gading yang tak retak”, demikian bunyi peribahasa untuk menggambarkan pentas seni ini.
Ada beberapa murid yang mengeluh, acara-acara yang ditampilkan hanya ‘begitu-begitu’ saja, membosankan. Ada juga yang mengeluhkan, acara dimulai terlalu sore. Tak semua dapat menikmati sampai tuntas.
Semoga di tahun mendatang, siswa-siswi Kelas 9 SMPK Santa Clara dapat membuat pentas seni yang lebih menarik dan kreatif. Tanpa mengurangi peran dan kerja keras panitia pelaksana, kiranya keluhan ini dapat menjadi masukan berguna.
Kiranya tidak berlebihan, kalau sekali lagi kita mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada panitia dan kakak-kakak Kelas 9, yang telah bekerja keras dan memberikan contoh yang sangat positif. Bravo SMPK Santa Clara!!! (*)
Naskah Ini Sudah Tayang di Majalah DIAN TARA SMPK Santa Clara Edisi 5 Tahun 2009