Ini Cara Saya Bekerja dari Rumah
Nggak, saya tidak jago menulis. Tulisan sering typo. Nulis fiksi juga tergantung suasana hati. Namun, saya sudah menulis dari SMP. Tulisan itu berupa novel yang baru diterbitkan 2012. Sampai tahun 2014, saya masih mengira dunia penulisan cuma berkisar pada dunia buku/skenario film. Naif banget karena ternyata ada jalan lain : jadi penulis konten di Internet.
Kenalannya waktu itu pas magang. Kebetulan saat magang orang-orangnya bener-bener baik. Saya diajarin menulis konten buat situs, jadi ghostwriter, dan sebagainya. Nggak semua orang mau nulis seperti itu. Kadang nama kita nggak ditulis (nggak ada kreditnya).
Dari situlah, mulai saya sering mengambil pekerjaan lepas sebagai penulis konten. Cari-cari saja lowongannya di Internet, Jobstreet, (link: https://projects.co.id). Dulu, semua pekerjaan diembat, mumpung kerja di kantor selow.
Pentingnya apa sih ngembat pekerjaan kayak gini? Kan masih kerja kantoran? Penting buat membangun jaringan sih. Jaringan itu penting buat pekerja konten lepas. Saya pernah terima kerjaan 30 artikel 300 kata, per artikel Rp2.000,00. Sama Mie Mewah aja mahalan itu produk. Waktu tahun 2016, saya masih kerja di sebuah perusahaan rintisan setelah sebelumnya pindah kerja tiga kali.
Memang, saya ini orangnya tidak betah bekerja di kantor, yang bekerja dari pukul 09.00-17.00. Tahun itu, saya hamil dan jadi alasan buat resign sekaligus negosiasi untuk menjadi pekerja lepas di kantor itu. Dari perusahaan itu, saya tahu kalau sekarang banyak kantor yang lebih suka menggunakan tenaga lepas dari luar. Alasannya : efisiensi biaya. Nggak perlu bayar BPJS, asuransi, bisa diputus sewaktu-waktu.
Setelah resign, saya benar-benar bekerja dari rumah. Pendapatan terbesar berasal dari perusahaan itu dan dua perusahaan lain. Oh ya, sebelumnya, saya juga mendaftar di dua agensi penyedia konten. Berat? Awalnya. Lama-lama terbiasa juga nulis sampe 10 artikel per hari. Karena sudah sering menulis konten, jadi banyak kenalan di dunia ini. Dapat rezeki dari mana saja : teman SMA, teman kuliah, kenalannya temen, kakak kelas yang dulu di kampus yang saling tidak kenal, dan lainnya.
Tahun 2018 diajak teman @susiloo11 membuat @graflit_id, dan alhamdulillah orderan lumayan banyak. Tanya-tanya soal @graflit_id, silakan langsung mention miminnya. Banyak yang pengin jadi pekerja lepas dan tanya kesan-kesannya ke saya. Namun, saya kasih tahu beberapa poin penting sebelum menjadi pekerja lepas di dunia ini:
1. Seberapa luas jaringanmu?
2. Siap berusaha keras nggak buat cari peluang di mana saja?
3. Ada “backingan”?
4. Berani terima kritik dan melepas “idealisme”?
5. Tepat waktu.
Backingan bagaimana? Saya berani begini karena suami saya bekerja dan gajinya rutin setiap bulan. Karena kalau boleh jujur, usaha belum kuat-kuat amat dan saya belum profesional banget, sampai bisa setajir kreator konten ternama.
Katakanlah, kalau saya itu pencari nafkah utama atau belum punya anak, tentu berpikir ulang untuk begini. Saya pasti akan tetap ambil pekerjaan nulis, buka usaha, tetapi tetap dengan bekerja kantoran karena saya tipe orang yang kalau bisa ambil lima kerjaan, kenapa harus satu?
Jadi, kalau kamu mau kerja dari rumah, pastikan memang jaringanmu sudah kuat, keputusanmu realistis, dan nggak nekat, cuma karena alasan kamu malas ke kantor. Kalau kamu malas di kantor, bakal lebih males kerja dari rumah. Tidak ada libur. Jadi, terus apa yang harus dipersiapkan kalau mau jadi content writer remote kayak saya ini?
1. Media buat nulis (nggak harus laptop, bisa keki kalau ketergantungan laptop, aku pk hape).
2. Internet
3. Google Docs, Grammarly, smallseotools.
4. Kerja dari Google Docs, bisa mengurangi risiko typo.
Grammarly ampuh buat membetulkan grammar Bahasa Inggris. Pakai versi gratisnya saja, yang premium mahal soalnya. Premium bagus kalau dapet kerjaan Bahasa Inggris yang memang honornya gede. Siapin mental karena perusahaan dan berbagai klien punya keinginan berbeda, tidak boleh baper kalau dikasih masukan editor, nggak boleh ngeluh “gw ga suka sudut pandang nulis begini’.
Kecuali kamu dapet kerjaan dari situs judi atau apapun yang nggak sesuai prinsipmu. Tolak dari awal. Kalau sudah berkomitmen menerima sebuah kerjaan, terima risiko klien/perusahaan mintanya pakai gaya bahasa gimana, sudut pandang seperti apa, dan sebagainya.
Tolak keinginannya kalau sudah melanggar perjanjian awal. Yang jelas terus belajar, cari tahu sistem SEO tuh kaya gimana (gue saja tidak paham-paham amat). Belajar gimana keywords yang bagus, baca semua artikel, ikutin berita terkini.
Buat profesi lain yang bisa remote kayak IT atau desain grafis, bisa sih rajin-rajin mencari info di grup-grup (kaya ahensi ex ahensi, kami kerja remote) memperluas jaringan, dan kalau belum profesional, mungkin jangan terlalu menetapkan harga yang tinggi.
Oh ya, satu lagi : jangan pernah menjelek-jelekan klien atau perusahaan tempat kerja remote, meski lagi capek (kecuali kalau mereka bikin masalah duluan dengan melanggar perjanjian). Jelek-jelekin saja mantan apa temen yang ngomongin di belakang, gitu ga papa sih kecuali mantan adalah klien kita.
Sumber : Intan Kirana (@intankirana09), 15 Agustus 2019.