Cara Saya Memperoleh Banyak Tawaran Pekerjaan
Saya sendiri, cuman lulusan kampus swasta ‘Kelas B’ di Bandung. Sudah gitu, saya termasuk kategori mapala, mahasiswa paling lama, ya, kuliahnya lama, (6,5 tahun untuk lulus) dan IPK saja di bawah 3. Jadi, saya tahu dirilah, tidak bisa muluk-muluk soal kerjaan,
Jangankan bekerja di Top Company, rasanya bisa dapat kerjaan saja sudah syukur Alhamdulillah. Saya lulus dan wisuda di awal tahun 2016, tapi pertama kali dapat pekerjaan, awal tahun 2017. Ya, menganggur selama 1 tahun.
Bagaimana rasanya menganggur? Stres. Benar-benar tidak ada yang enak dari menganggur. Sudah tidak punya duit, ada saja, tekanan perasaan dari lingkungan yang bikin tambah bikin stres. Tapi dari menganggur itu, saya jadi banyak belajar.
Saya belajar, kalau yang namanya Fresh Graduate itu senyatanya tidak punya daya tawar apapun di mata HRD. Sampai di satu titik, saya akhirnya luluh, dan punya pikiran. ‘Sudahlah, yang penting, saya kerja dulu!’. Awal 2017, saya kerja sebagai Digital Marketing.
Saya bekerja di sebuah resor di Bandung. Kebetulan, memang dasar kuliah saya itu Computer Science. Tapi, karena ketidakjelasan kontrak kerja, saya tidak lama kerja di sana. Bisa jadi perusahaan itu mau nerima saya menyangka saya bisa dikibulin.
Setelah resign, saya mengganggur lagi. Coba-coba kirim lamaran ke berbagai perusahaan. Dan ya, saya banyak ditolak. Sampai di pertengahan 2017, saya nyangkut di perusahaan teknologi, yang lagi naik daun banget (bahkan hingga sekarang).
Tapi posisi yang saya lamar, benar-benar posisi yang paling saya hindarin selama ini. Posisi itu adalah Account Executive a.k.a Sales. Apa boleh buat, karena butuh perkerjaan (baca : Duit), saya putuskan untuk mengikuti proses rekrutmen.
Saya ikuti saja, dari lamaran, Focus Group Discussion hingga Interview User. Hasilnya, saya diterima sebagai Junior AE di sana. Awal-awal bekerja, jujur saja, saya tidak betah banget karena berasa diuber-uber sama debt collector.
Cuman bedanya ini, saya diuber-uber atasan sendiri, yang rajin bertanya ‘Udah ke mana aja? Udah dapet berapa?’ dan lainnya. Stress, pasti. Tapi, saya paksain bekerja di tempat itu, karena saya tidak ada pilihan lain dan berpikir, perusahaan ini bisa saya jadikan batu loncatan.
Satu semester saya lalu, dan kontrak habis. Atasan bertanya, soal perpanjangan kontrak. Saya menyampaikan terus terang : “Jujur saja, bidang ini bukan sesuatu yang saya suka. Tapi saya ingin diberi kesempatan setahun lagi untuk membuktikan, saya bisa survive di bidang yang saya tidak suka.”
Akhirnya, kontrak saya diperpanjang hingga setahun. Selama bekerja di sana, saya belajar, bekerja bukan cuman soal keterampilan di sekolah atau kuliah, tapi yang lebih penting, kamu harus banyak koneksi dan pandai komunikasi.
Dari situ, saya membangun akun LinkedIn, saya isi sebagus mungkin. Saya banyak berteman dengan sesama pengguna LinkedIn dan lainnya. Di sini, saya belajar, kalau yang namanya CV itu, tidak bisa satu untuk semua, tapi satu CV itu, cuman untuk satu industri/perusahaan.
Contohnya, kalau melamar menjadi admin, tidak bisa memberikan CV yang digunakan melamar Creative Team. Begitu sebaliknya. Long story short, akhirnya kontrak saya habis, dan karena sudah mempersiapkan hal ini, sebelum kontrak habis, saya sudah ancang-ancang cari pekerjaan lain.
Tepat pas saya habis kontrak, ada empat perusahaan yang menerima saya dengan pilihan :
1. Digital Marketing – Cafe (Bandung)
2. Digital Marketing – Produsen Buah Ekspor (Bandung)
3. Senior AE – Perusahaan POS (Bandung)
4. Digital Marketing – Grab (Bandung)
5. Product Manager – Media Digital (Jakarta)
Dari pilihan itu, saya memutuskan memilih Product Manager dengan pertimbangan : bekerja di Jakarta akan membuat saya banyak belajar, dan kembali ke fitrah saya, sebagai engineer. Belum setahun kerja sebagai Product Manager, saya iseng apply beberapa lowongan, ternyata aplikasi saya diterima dan mendapat tawaran pekerjaan untuk beberapa formasi :
1. Online Specialis – Fintech
2. Product Manager – POS (beda sama yang pertama tadi)
3. Product Manager – Startup
4. Product Manager – Agensi
Bingung? Sudah pasti. Iseng-iseng bisa dapat tawaran segitu. Jadi, bagaimana saya dapat beragam tawaran kerja dalam satu waktu itu? Kuncinya, agar bisa terkoneksi, kamu ‘terkenal’, makanya, kamu butuh networking.
Selain terkenal, tentu saja, perlu kapabilitas. Tinggal bagaimana cara kamu mengartikulasikan skill dari kapabilitasmu itu; Kalau tidak, networking itu, tidak ada gunanya. Jadi, intinya, kamu harus pinter komunikasi juga. Saran saya, bagi para first jobber, jangan terlalu muluk-muluk. Jadikan, tempat pertama kalian kerja sebagai batu loncatan kalian ke karir berikutnya. Tapi tetep tinggalin kesan yang baik ya.
Sumber : Saya kamu kita (@sayasukakita), 25 Agustus 2019.