Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Memeluk Bulan

DOBRAKAN  pintu rumah yang tiba-tiba terbuka lebar serasa melepas jantungku, dadaku berdegup seketika. Perlahan aku bangun dan kutata rambutku, kumatikan tivi yang sedari tadi kutonton dan kusingkap tikar pandan didepan tivi yang sempat membuatku terlelap sesaat. Mulutku masih menganga menatap daun pintu rumahku yang engselnya baru dibenahi Kang Trimo kemarin sore sekarang copot lagi, pintu itu tidak roboh tapi posisinya tidak bisa tegap lagi.

Tembok rumah samping daun pintu yang belum sempat dihaluskan itu juga sempat gempil karena kekuatan dorongan tadi. Aku mencoba menata nafasku yang tidak teratur, menatap
kacang atom yang tersebar berserakan dilantai semen rumahku, boneka Marsha yang kubeli kemarin juga tergeletak dibawah kursi kayu, sepertinya boneka itu baru terlempar keras sehingga kerudung Marsha juga sedikit terkoyak tidak tertata.

Kulihat diluar pintu ada mata harimau garang yang siap menerkam, mata yang kuhafal setiap kali amarahnya datang. Entah berapa kali mata itu menghampiriku, menyerangku dan seakan-akan ingin menelanku. Ya, mata itu adalah milik Yu Paini yang dalam setiap kali usai shalat sesalu kudoakan agar luluh hatinya, dijadikan lembut perilakunya, dan berbalik baik kepadaku. Rupanya doaku belum dikabulkan Tuhan, meski sudah dua tahun lebih aku memohonnya.

“Sudah berapa kali aku bilang jangan pernah memberikan apa-apa pada Bulan!” suara bak petir disiang bolong itu meledak lagi, dan pasti akan mengundang perhatian sedikitnya sepuluh deret rumah tetangga di kanan kiriku. “Aku masih punya duit kalau hanya untuk membeli kacang. Fitri sudah menjamin biaya hidup Bulan dan aku untuk selamanya. Kalau kamu ingin punya anak, suruh Trimo nikah lagi dengan perempuan yang tidak busung seperti kamu!”

Sebelum berbalik dan berlalu, Yu Paini sempat meloncatkan ludahnya dengan kasar walaupun hanya didepan pintu rumahku. Mestinya aku sudah kebal dengan kalimat-kalimat itu. Kalau dihitung sudah lebih lima kali aku mendengar hinaan seperti itu, namun toh nyerinya masih terasa seperti biasa setiap kali kalimat itu terlontar. Aku sudah mencoba tidak mengambil hati semua perkataan itu, meskipun aku harus menanggung malu karena kadang kalimat seperti itu diteriakkan di tengah kerumunan orang.

Hanya sesama perempuan yang mempunyai nasib sama seperti aku yang bisa merasakan nyerinya tertusuk tajamnya kalimat-kalimat seperti itu. Aku menghela nafas dan memunguti kacang atom yang berserakan dan kembali memasukkan kedalam kantung plastiknya yang sudah tidak utuh lagi, karena pecah dan robek setelah dibanting Yu Paini. Aku memang memberikan pada Bulan kacang atom dan boneka Marsha itu tadi ketika Bulan pulang sekolah.

Aku mencoba memberanikan diri menyusul ke sekolah TK Bulan menjelang dia pulang. Sebenarnya Bulan juga ragu-ragu menerima pemberianku karena dia hafal kalau neneknya pasti akan marah kalau ketahuan itu pemberianku. Tapi entah kenapa aku bisa sedikit memaksanya untuk menerima. Aku ingin Bulan tahu, bahwa aku sebagai budenya tetap sayang padanya, dan tidak pernah melupakannya. Aku taruh kacang atom dalam plastic setengah robek itu dalam toples. Lalu kuraih boneka Marsha dan kusimpan dalam lemari
berkumpul dengan dua lembar baju Bulan yang kubelikan menjelang lebaran kemarin, namun dilempar lagi kerumahku sama Yu Paini.

Bagaimanapun Bulan adalah keponakanku, anak dari almarhum Kirno, adik semata
wayangku dengan Fitri anak semata wayang Yu Paini. Bulan sesungguhnya cukup akrab denganku, juga dengan Kang Trimo. Setiapkali Kirno mengajaknya kerumah, kami selalu bersenda gurau dan dia paling suka main kejar-kejaran dengan Kang Trimo, pakdenya. Kami berdua memang sangat menyayangi Bulan mungkin karena kami juga merindukan kehadiran buah hati. Rasanya kangen sekali kalau sudah beberapa minggu Bulan tidak diajak kerumah.

Yang aku tahu Bulan sejak kecil memang suka kacang atom, setiap kali Kirno mengajaknya kerumah dia selalu minta dibelikan kacang atom, kalau tidak minta aku pasti minta pakdenya. Dan tingkah Bulan sejak umur satu tahun memang menggemaskan, itu yang
membuat kami sering kangen. Seringkali Kang Trimo menyiapkan kacang atom untuk Bulan dirumah, meskipun kedatangan Kirno dan Bulan tidak tentu waktunya.

Sebenarnya tempat tinggal Kirno tidak jauh dari rumah, dia tinggal di kampung sebelah bersama Fitri dan Yu Paini, mungkin hanya butuh waktu 15 menit dengan berjalan kaki kalau hanya untuk sekedar menyambangi Bulan, tapi kami memang kami memutuskan untuk tidak menyambangi rumah tangga Kirno karena Fitri selalu menampakkan wajah yang tidak bersahabat setiap kali aku dan Kang Trimo datang.

Sekali dua kali kami merasakan sikap seperti itu, akhirnya kami memutuskan untuk tidak sering-sering menjenguk rumah tangga Kirno. Setiap kali kami datang membawakan oleh-oleh untuk Bulan, Fitri juga tidak menunjukkan sikap berterimakasih bahkan jarang
menyentuh pemberian kami.

Padahal untuk membeli oleh-oleh itu kami sudah bersusah payah menyisihkan sebagian upah Kang Trimo sebagai tukang selep padi keliling. Setiap kali kami bertamu, Fitri juga sering pura-pura sibuk didapur, di kamar bahkan pernah pamit keluar untuk alasan senam katanya. Aku tidak tahu apa yang ada dalam fikiran Fitri, maupun Yu Paini, kok menjadi
berubah, kami juga tidak tahu apa salah kami. Kami juga tidak mengharap apa-apa dari Kirno yang sudah bekerja, walaupun kami yang menyekolahkan Kirno sampai STM, tapi kami sudah cukup senang mengantar Kirno menjadi orang yang dewasa, bisa bekerja dan menjadi seorang ayah.

Sejak Bulan lahir kami belum pernah melihat Fitri datang kerumah kami. Kalaupun Kirno datang paling ya hanya sama Bulan saja. Aku sering menanyakan pada Kirno ada apa dengan Fitri tapi Kirno bilang tidak ada apa-apa dan jangan mengambil hati atas sikap Fitri. Hal itu terjadi sampai akhirnya rumah tangga Kirno gonjang-ganjing, kami juga tidak bisa
berbuat apa-apa. Kami tidak bisa ikut campur tangan lagi meskipun kami mengkhawatirkan kondisi Kirno, adik kami.

Sikap Fitri memang sudah berbeda setelah resmi menikah dengan Kirno, hal itu berbeda ketika masih berpacaran, dia nampak ramah dan menunjukkan sikap yang baik sebagai calon menantu. Kirno memang adik semata wayangku dan ikut aku sejak aku menikah dengan Kang Trimo dan juga semenjak kedua orang tua kami meninggal. Pendek kata awalnya aku dan Yu Paini memang bebesanan, dan hubungan kami baik. Yu Paini sendiri hanya seorang janda, dia membesarkan Fitri sendirian sejak suaminya pergi dan tidak ada kabarnya
lagi. Yu Paini juga yang melarang Kirno untuk membuat rumah sendiri dan memintanya untuk tinggal bersama saja.

Kirno meninggal memang tidak dengan cara yang baik, dia meninggal bersamaan dengan dua temannya waktu pesta minuman oplosan dikampung sebelah, hal ini sempat menjadi
perbincangan anatrwarga dan masuk koran juga waktu itu. Mungkin Kirno mengalami depresi setelah Fitri meminta cerai. Aku tidak mengetahui banyak permasalahan dalam rumah tangga adikku, karena Kirno memang jarang cerita. Setahuku masalah sering muncul setelah Kirno di PHK dari pabriknya, kemudian dia tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Setahuku Kirno sudah melakukan yang terbaik untuk keluarganya, meskipun tidak ada pekerjaan tetap aku tidak pernah melihat dia tiduran atau menganggur di rumah. Apa saja dilakukannya, mulai ikut temannya membuat taman, membantu dekorasi pengantin sampai menjadi kuli bangunan pernah dijalaninya. Sejak Kirno tidak mempunyai pekerjaan tetap aku sendiri tanpa sepengetahuan Kang Trimo juga sering ngasih uang pada Kirno, mungkin bisa untuk membelikan jajan anaknya atau untuk uang rokoknya. Tapi tidak tahulah apalagi yang kurang, sehingga Fitri ngotot mati-matian minta cerai, bahkan mengancam akan mengurus surat sendiri.

Sejak saat itu aku melihat Kirno jadi kacau, aku dengar dari beberapa temannya dia jarang pulang, bahkan sudah jarang mampir kerumahku, sampai suatu ketika seorang polisi datang kerumahku dan mengabarkan bahwa Kirno sudah meregang nyawa dirumah sakit akibat pesta miras. Sejak Kirno meninggal Fitri tidak pernah lagi menyambung silaturahmi dengan kami, pernah suatu kali kami menyambangi kerumahnya Fitri malah tidak keluar hanya Yu Paini yang menemui kami dan bilang bahwa Fitri kurang enak badan. Sementara Bulan sudah tidur siang waktu itu, akhirnya kami pamit.

Sampai beberapa bulan kemudian kami mendengar Fitri berangkat ke Hongkong untuk bekerja dan sikap Yu Paini mulai tak acuh kepada kami. Entah memang Fitri yang melarang atau memang Yu Paini yang tidak memperbolehkan yang jelas setiap kali kami memberikan apa-apa untuk Bulan selalu dikembalikan dengan cara kasar. Dari Katini, tetangga dekatku aku juga baru mengerti bahwa Yu Paini sering koar-koar kepada orang-orang bahwa dia tidak memperbolehkan Bulan menerima apapun pemberianku dan Kang Trimo karena barang dan makanan yang kami berikan katanya berbau dukun, dijampi-jampi dulu agar Bulan bisa lengket bersama kami. Astaghfirullah.

“Kan aku sudah bilang gak usah menemui Bulan lagi Sum, kelak nanti kalau dia sudah besar dia pasti ingat bahwa kita pakde dan budenya” tutur Kang Trimo sore harinya setelah aku
ceritakan semua kejadian bahwa Yu Paini mendobrak pintu dan melempar kacang dan boneka pemberianku.

“Aku sendiri juga kangen sama Bulan sebenarnya, tapi bagaimana lagi, neneknya seperti itu”. Kali ini suara Kang Trimo parau, seperti akan menangis. Aku jadi semakin sedih, memang sebenarnya bukan hanya aku yang merindukan Bulan, tapi Kang Trimo mungkin lebih rindu, aku tahu Bulan dulu begitu lengket sama Kang Trimo.

Beberapa waktu lalu aku juga menangis sendiri ketika mendengar cerita Kang Sadeli, teman dekat Kang Trimo, bahwa Kang Trimo sebenarnya sering pura-pura beli pentol celup didepan sekolah TK Bulan, hanya untuk bisa melihat Bulan bermain pada jam istirahat.

***********

Aku sudah mencantolkan belanjaan disepedaku dan mau mengayuhnya mau menuju
pulang, ketika Yu Gisah, pemilik toko tempatku belanja mendadak berteriak memanggilku.
“Sum…tunggu dulu”
Yu Gisah tergopoh-gopoh keluar dari tokonya dan menghampiriku.
“Tadi Yu Paini belanja kesini…katanya 3 bulan lagi Fitri pulang dari Hongkong dan mau menikah, apa kamu gak dikasih kabar?”
“Masak Yu?”
“Iya tadi dia belanja banyak disini, katanya Fitri baru kirim uang tiga juta lebih, enak ya Fitri sekarang?”

Aku gak langsung menjawab, karena tidak tahu harus menanggapi apa kabar dari Yu Gisah ini. "Kalau memang Fitri mau menikah ya tidak apa-apalah Yu, kan Kirno juga sudah
habis seribu harinya kemarin. Lagian Fitri kan masih muda,”jawabku akhirnya. “Kamu tidak pernah menjenguk Bulan?”Tanya Yu Gisah lagi.

Aku terdiam. Entah kenapa setiap ada pertanyaan tentang Bulan tiba-tiba seperti ada panah yang akan menancap dimataku dan akan melelehkan seluruh airmataku.
“Saya pulang dulu ya Yu, sudah siang. Kang Trimo keburu pulang kerja”pamitku lalu kukayuh sepeda pancalku. Aku tidak peduli bagaimana reaksi Yu Gisah melihat mimic wajahku.

Memang sudah jadi bahan cerita orang desa bahwa Fitri sekarang memang sudah
enak di Hongkong. Aku gak tahu apa kerjanya sekarang. Sejak pergi ke Hongkong dua tahun yang lalu dia sering kirim duit banyak bahkan sebelum lebaran kemarin dia kirim duit untuk membenahi rumahnya. Rumah Yu Paini yang dulu belum ditembok sekarang sudah ditembok dengan pilar yang besar- besar dengan lantai keramik yang mengilat. Aku dan Kang Trimo sendiri hanya dapat cerita-cerita selentingan dari tetangga.

Mungkin karena semua orang tahu bahwa Fitri adalah bekas adik menantu kami, orang masih sering menceritakan berita-berita tentang Fitri kepada kami, termasuk Yu Paini yang dulu tidak suka pakai perhiasan, sekarang katanya malah seperti toko emas berjalan. Gelang, kalung, dan cincinnya banyak. Kalau pergi ke pengajian juga suka ganti-ganti baju bagus. Aku pernah basa-basi tanya ke Bulik Umi, orang tuanya Hartini, teman Fitri yang berangkat bersama-sama ke Hongkong dua tahun yang lalu. Katanya Hartini tidak pernah kirim duit sebanyak itu. Katanya kerjaan Fitri dan Hartini juga sama-sama sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong.

“Hartini sih sering telepon dan cerita Sum, terutama tentang kehidupan Fitri di sana, tapi saya tidak mau cerita banyaklah Sum disini, cukup aku dan Hartini saja yang tahu, nanti saya dikira ngiri sama Yu Paini yang sering dapat kiriman duit banyak” . Begitu cerita Bulik Umi yang sempat meninggalkan sejuta tanda tanya dibenakku. Apa perbedaan Fitri dan
Hartini kok pendapatannya berbeda?

Tapi sudahlah, saya tidak mau berpikiran buruk, kalau memang kehidupan Fitri sekarang lebih baik dan enak, mudah-mudahan itu untuk kebaikan kehidupan Bulan juga yang akan
datang. Kalaupun Fitri mau menikah lagi dengan pria yang kaya dari Hongkong seperti cerita Yu Gisah, mudah-mudahan Bulan mendapatkan Bapak yang baik dan bisa menyayangi Bulan. Yang penting seperti harapan Kang Trimo, Bulan tidak melupakan kami sebagai Pakde dan Budenya.

Sesampai  di rumah dadaku seperti tersedak, kulihat Kang Trimo sudah pulang kerja, dia duduk menghadap samping melihat pekarangan samping rumah yang ditanami ubi jalar di bangku bambu panjang diteras rumah dengan pandangan kosong sambil makan kacang atom, mungkin itu kacang atom yang dilempar Yu Paini dua hari yang lalu yang aku simpan ditoples dapur. Kang Trimo sampai tidak menyadari kedatanganku bersama sepedaku.

“Aku tadi masak pepes pindang Kang, ayo makan dulu,” kataku pelan-pelan berharap Kang Trimo tidak terlalu kaget bahwa aku sudah pulang. "Oh, iya…belanja toh?” sahut Kang Trimo terperanjat.

Aku masuk rumah menenteng belanjaan dengan gontai. Entah kenapa aku nyeri melihat Kang Trimo makan kacang atom sambil melamun, mungkin Kang Trimo kangen sama Bulan. Ya Tuhan, kapan kami bisa bertemu dengan keponakan kami?

*********
Deru motor bebek Katini benar-benar mengejutkanku. Aku baru mau menjemur cucian, Katini memarkirakan motornya di halaman rumahku.
“Yu Sum, tadi lihat berita tivi?” Tanya Katini dengan terengah-engah menghampiriku.
“Belum sempat Tin, ada apa?”
“Ada berita Yu..” Katini agak gugup kali ini.
“Berita apa?” teriakku tidak sadar, karena penasaran.
“Tentang Fitri Yu”
“Fitri kenapa?”

“Kita kerumah Pak Modin saja Yu, Pak Modin tadi beli Koran, berita tentang Fitri juga dimuat di koran, nanti Yu Sum baca sendiri saja.”
“Aku ganti baju dulu ya Tin?”
“Gak usah Yu, begitu saja, ayo tak bonceng”.

Katini bergegas menghampiri motornya dan tanpa pikir panjang aku langsung naik boncengannya. Dengan terhuyung-huyung Katini mengendarai motornya. “Hati-hati lho Tin, aku gak pernah naik motor ”wanti-wantiku penuh waswas. Sesaat kemudian kami sampai rumah Pak Modin. Katini bergegas masuk ruang tamu Pak Modin dan aku menunggu di terasnya, lalu Katini keluar membawa Koran.

“Baca bagian pojok halaman ini Yu…” kata Katini menunjukkan halaman berita yang dimaksud. Kamipun duduk di lantai teras Pak Modin. Perlahan-lahan mataku menelusuri kata demi kata di koran itu, tidak mudah bagiku membaca dengan cepat huruf-huruf kecil
seperti itu. “Kamu toh Sum…?” mungkin itu suara Pak Modin dari belakang kami. Tapi aku tidak sempat menghiraukan siapapun itu. Aku tetap menelusuri setiap kata dan kalimat dikoran itu yang membuatku semakin berdegup kencang, dan kurasakan tulisan itu semakin kabur dan kabur…

 *********

Airmataku terus mengucur, aku tidak menghiraukan orang kanan kiriku yang juga duduk disekitarku entah apa yang tunggu. Aku tidak sempat melihat orang-orang yang datang dengan tergopoh-gopoh, atau suster-suster yang berlalu lalang entah untuk keperluan apa. Sesekali kulihat kereta dorong pasien melintas didepanku dengan penumpang yang berdarah-darah, atau dengan pengantar yang menangis-nangis. Sekilas kulirik jam di dinding
ruang tunggu menunjukkan pukul dua belas kurang seperempat. Sudah siang rupanya, batinku.

Hidungku tidak henti-hentinya menciumi kepala dan rambut bidadari kecil yang sejak kemarin sore ada dipangkuanku. Dia terlelap, mungkin kecapekan menangis dan mengeluarkan sesak hatinya. “Belum bangun juga si Bulan, Sum?”

Aku menoleh, Pak Modin sudah ada di sampingku. “Belum pak” jawabku pelan sambil mengusap air mataku. “Jangan sampai dia tahu kondisi neneknya sekarang ya? Biar sama kamu saja” lanjut Pak Modin.
“Bagaimana keadaan Bu Paini didalam pak?” tanyaku serak.
“Belum sadar juga, kata dokter serangan jantung. Mungkin kaget dengan kejadian
ini, Sum. Tadi malam sebelum tidak sadarkan diri Bu Paini sempat berpesan, kalau terjadi apa-apa, dia titipkan Bulan kepadamu Sum”

Tangisku membuncah lagi. Entah apa yang kuarasakan. Semakin kupeluk erat gadis mungil yang tetap terlelap dipangkuanku. “Minum dulu Sum”. Kali ini nada suara yang terdengar lain, meskipun tidak asing ditelingaku. Aku menoleh kekiri, ada Kang Trimo yang baru datang rupanya. Tangannya meraih pundakku seakan mengulurkan kekuatan baru untukku, dan aku semakin tersedu dipundak suamiku. Perlahan dia membisikkan sesuatu: “Jenasah Fitri datang kemarin sore dan ini tadi sudah disemayamkan. Orang-orang rumah mempersiapkan tahlilan”

Sayup-sayup aku dengar berita yang disiarkan televisi di ruang tunggu, mungkin dalam berita headline news atau breaking news, bahwa seorang TKW asal Indonesia dibunuh majikan perempaunnya karena ketahuan berselingkuh dengan majikan prianya. Entah kasus ini akan menjadi perhatian pemerintah Indonesia untuk ditindaklanjuti, atau dibiarkan begitu saja seperti biasanya. Apapun yang terjadi, semoga ini tidak didengar oleh bidadari kecilku, Bulan. Dan aku memeluknya, semakin erat. (miro j fero)
Auto Europe Car Rental