Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kartu Tarot

SPONTAN CT berucap. “Jadi, kita nginap di sini? “Ya,” tukas  MS yang sedang mengemudikan mobil BMW-nya. Cindy, Kembon, Yenny, Andriawan, MS, dan CT tengah berlibur di Tretes untuk berlibur akhir tahun 2015. “Sekalian buat raya-in ultahnya Cindy yang rampung bulan lalu,” canda Kembon.

“Kita dah bawa-in kamu kado, ni! Gitar kecil, coy.. Biar Cindy bisa main gitar lagi.” Kata Yenny. “Yup, biar Cindy bisa berkarya lagi. Nanti di villa pas malem-malem kamu mainin gitarnya ya, Cin!” suara Kembon lagi. Wajah Andriawan sontak memerah nan berderu kagum.

Vila ini begitu besar. Ada taman, kolam renang, dan halaman belakang. Hanya saja, tamannya yang tidak terawat, penuh dengan rerumputan dan ilalang liar, pohon tua dengan akar-akar menjalar. Cindy bergumam. Ia masih ingat kejadian di pasar baru. Kala itu, ia dan kelima temannya sempat mengunjungi kedok ramalan tarot.

Ketika gilirannya dengan Andriawan, ia mendapat ramalan akan mendapatkan buah manis dan buah pahit yang berdampak bagi keselamatan diri dan teman-temannya. “Kalian berdua harus berhati-hati, karena kalian lagi dipantau oleh sosok wanita.” Begitu yang berbunyi di benaknya.

Andriawan sempat membantah dan menganggap peramal tarot itu mencari sensansi. “Woi, Cin! Ngelamuni sapa, hayo?” suara Kembon mengejutkannya. “Ahh, nggak.. Gapapa. Ayo beres-beres. Setelah mengorfimasi penyewaan villa, mereka akhirnya bisa masuk ke dalam kamar masing-masing. Kamar cowok berhadapan dengan kamar cewek.

“Cet, kamu tidur di kamar cewek dong! Soalnya aku kalau tidur makan tempat.” Canda MS. “Iya CT kalau tengah malam sering ngelindur dan nyebutin nama ceweknya.” Kata Andriawan.

“Dasar!” balas CT meredam malu. “Oii, oii! Para cowok! Gamau lihat-lihat taman
kah?” tiba-tiba Kembon masuk. “Aku ngantuk..” balas MS. Andriawan dengan CT akhirnya ikut ke taman.

Taman ini begitu indah, begitu hijau nan sejuk. Bunga-bunga mawar yang cantik dan bunga melati yang harum seakan membawa mereka berlima ke alam cinta. “Dri, kamu gak petik bunga mawarnya?” tanya Kembon. “Oh, iya.. iya.” Jawab Andriawan tersipu dan
mencabut setangkai bunga mawar.

“Kamu juga!” kata Kembon lagi seraya menunjuk CT. “Aku bingung bunga apa yang menandakan cinta.” Balas CT. Cindy tampak senang di taman ini. Berkali-kali ia mengambil gambar bunga di taman itu untuk dilukis kembali. Ia seakan tak henti-hentinya merayu aneka bunga di taman itu.

“Cantik banget ya Cindy kalau lagi gini.” Gumam Kembon. Tiba-tiba suara petir menjerit dan langit pun meneteskan air matanya. “Wah, gerimis! Ayo kembali!” kata Kembon. “Tunggu, Cin!” kata Andriawan mengikuti derap kaki Cindy.

Tak terasa hari gelap tiba, kali ini mereka tengah bersuka ria. Kembon dengan Yenny lagi bermain di kamarnya. Samar-samar Andriawan mendengar melodi cinta dengan suara merdu di halaman depan. Ternyata, Cindy  sedang duduk menyendiri dengan memainkan gitar barunya.

“Waduh, gitar baru nih..” suara Andriawan mengejutkan Cindy. Ia kemudian duduk di sampingnya. “Hehe.. Iya Dri.” “Kamu keren banget kalau lagi gitar-an!” kata Andriawan terpesona. “Iya Dri, thank you. Hehe..” “Eh, malam ini begitu indah, ya? Coba Cindy lihat langit yang bertabur bintang diterangi bulan.”

foto : flickr
“Iya-iya, indah banget. Suara deru angin meniup dan jangkrik bernyanyi melengkapi hawa ini.” “Iya, lihat kolam ini! Seakan airnya berkilau dan terang.” “Yup, di pepohonan yang rindam tampak kunang-kunang menari bersama dan cahaya hangatnya seakan menyiratkan kata cinta.”

“Cin, andai kamu lagi main gitar, aku gamau jadi senarnya.” Kata Andriawan dingin. “Napa?” “Soalnya aku gamau putus gara-gara kamu sering mainin diriku.” “Hahaha, terus mau jadi apa?” Cindy tersenyum. “Aku mau jadi gitarnya, supaya bisa dibawa kamu kemana-mana.” “Dasar! (Plok)” kata Cindy sambil menempelkan telapak tangannya ke pipi Andriawan.

Di suasana yang akrab itu, samar-samar terlihat sosok wanita berbaju putih di bibir kolam renang. Ia menatap tajam wajah mereka berdua. Penasaran, Andriawan dan Cindy menghampiri wanita itu, namun ia menghilang. Tiba-tiba, terdengar suara gaduh di dalam. Mereka akhirnya kembali ke vila.

Sesampainya di vila, mereka melihat Kembon dan Yenny kebingungan. Tiba-tiba..“Duarrr” suara gemuruh petir melanda dan tiba-tiba lampu padam. Serasa gelap gulita. Suasana menjadi hening dan turun hujan gerimis. “Wah gelap, aku harus cari sumber cahaya.” Kata
Kembon.

Baru lima langkah berjalan ke depan, tiba-tiba jendela depan terbuka dan sosok wanita berbaju putih dengan wajah pucat tampak. Cindy, Andriawan, Kembon, dan Yenny pun diam seribu bahasa. Seakan kaki mereka pun tak kuasa melangkah.“Han..Hann..” suara mereka bebarengan. Tiba-tiba, lampu kembali menyala. “Woii..Woii.. Bantu aku, jangan kerjai
aku! Dasar! Di mana CD-ku? Dasar! Oceh CT.

“Hahahahahaha!” tiba-tiba MS melonjak-lonjak kegirangan. Ternyata, sumber keributan itu
adalah ulah usil MS, sehingga CT tidak bisa keluar dari kamar mandi. Mereka pun makin ribut. Kembon dan Yenny kemudian berusaha mengakhiri pertikaian MS. “Daripada urusin hal ga jelas, mending tinggalin aja yuk, Cin!” kata Andriawan sembari mengikuti langkah Cindy yang jalan duluan.

“He..em”. Kini, tinggal mereka berdua saja. “Cin, benarnya tadi apa yang kita lihat ya? Apa Cuma halusinasi kita aja ya?” kata Andriawan yang berdiri di sampingnya. “Udah jangan dibahas lagi, aku malas.” Kata Cindy memohon sembari menatap tajam Andriawan.

“Cin, ada apa?” “Gapapa..” katanya sekali lagi.“Cin..” wajah mereka berdua semakin berdekatan dan tatapan mata pun tak berkedip. *Sensor* “Arghh.. Ampun Cin! Ampun!” kata Andriawan merengek. Kini, mukanya sudah berada dalam kempitan lengan
Cindy.

“Jangan aneh-aneh!” kata Cindy serius sembari melepaskan pitingan-nya. “Ayo kembali ke anak-anak, sekarang jamnya makan malam.”  Ucapnya sekali lagi. Seusai makan malam, seperti biasa anak-anak sibuk sendiri. Mereka berada di kamar masing-masing. Andriawan sedang duduk-duduk di ruang tamu, sedangkan Cindy berada di lantai 2.

Andriawan kemudian naik ke lantai 2 dan menjumpai Cindy yang sedang menikmati pandangan langit malam di luar.  “Lagi lihat langit ya, Cin?” kata Andriawan. “Iya, kalau pas malem-malem gini aku paling suka menyendiri sambil melihat langit malam.  Menatap bintang-bintang di langit. Lebih romantis lagi dengan suara angin ini meniup dahan-dahan pohon.”

“Hehehe, matamu jadi bersinar kalau terkena sinar bulan.”“Hahaha, dasar!” “Ngomong-ngomong, aku minta maaf ya tadi. Aku gak sengaja, kok tiba-tiba wajah kita bisa sampai sedekat itu, padahal selama ini kita tidak pernah ngalami hal itu sekalipun.” “Hahaha, gapapa.. santai aja. Aku ya  minta maaf ya terlalu berlebihan laku-in kamu segitunya. Ga sakit kan?”“Engga kok, Cin.”

Cindy tersenyum. Hubungan mereka kian serasa lebih akrab.“Ya, sori ya, kalau di sekolah kita ga bisa sampe seakrab gini. Mesti ada yang ribut-in, sedangkan aku pemalu.  Mesti kalau ngeliat kamu, aku lari. Tapi, sekarang aku dan kamu bisa berinterkasi  empat mata dengan jarak intim. Momen inilah yang aku tunggu dari awal kita saling kenal.

“Hehehe, kamu sih dikit-dikit malu.” “Ya, gimana ya? Minder dikit sih. Awalnya sih, momen malam ini aku pikir hanyalah ilusi, tetapi akhirnya ilusi itu menjadi kenyataan. “Hahahaha.. Kamu sih terlalu ngidam-ngidam tapi ga berani.” Andriawan termenung. Cindy mundur dua langkah.“Cin, sebenarnya aku..” kini Andriawan berada di hadapan Cindy. Cindy mundur lagi.

“Sebenarnya aku ma kamu…. CIN BELAKANG!” teriak Andriawan  sembari menarik Cindy ke kanan. Sosok wanita berbaju putih muncul dari belakang Cindy dengan
membawa pisau. Andriawan dan Cindy masuk ke dalam. Sosok itu ikut masuk. Matanya seakan haus darah. “Hantuu!” teriak mereka berdua serempak mengejutkan teman-temannya. Mereka berlari menuju lantai bawah.

foto : flickr

Sesampainyadi bawah, Kembon, Yenny, MS, dan CT tampak kebingungan dengan mereka
berdua. “Kalian kenapa sih? Tadi lagi mesra-mesra di atas sekarang teriak-teriak.” Kata Kembon. “Whooosh” tiba-tiba tubuh Kembon dan Yenny ditarik kuat kea rah yang berlawanan. Tubuh mereka serasa terbang. Kembon ditarik menuju ruangan paling kiri dan Yenny di ruangan paling kanan.

Pintu kedua ruangan itu kemudian terkunci. Keempat teman lainnya terkejut, terlagi MS. “Hantuuu..” teriak MS berlari ke tangga. Tiba-tiba, tubuhnya ditarik ke atas dan ditujukan di ruangan lantai 2. Pintunya pun terkunci. Cindy, Andriawan, dan CT termenung. Tiba-tiba,
hantu wanita itu muncul secara perlahan dari atas menuju ke bawah. Kini, ia berada tepat di hadapan mereka.

“Lari!” teriak Andriawan membuat lainnya ikut lari ke lantai atas. Mereka menjauhi sosok itu. “Apa-apaan barusan?” kata Cindy terengah. “Aku gatau apa yang terjadi dengan Kembon, Yenny, dan MS.” Balas Andriawan. CT diam saja. Wajahnya tampak pucat dan berkeringat dingin.

“Cet, cet kok celanamu basah? Kamu ngompol kah?” tanya Andriawan kepada CT yang gemetaran. “Kakiku.. Kakiku.. Berat sekali.. Dingin sekali..”  terlihat dua tangan putih pucat mengerat kaki CT. “Han.. Hantu!” teriak Andriawan dan Cindy meninggalkan CT.  “Jangan tinggalkan aku!” rengek CT, kemudian ia diitarik sang hantu dan lenyap.

Cindy dan Andriawan menjauhi sang hantu, tiba-tiba lampu kembali padam. Untung,
Cindy membawa HPnya dan ia menggunakan senter HP-nya. Mereka berjalan bergandengan dan ketika itu, sorot senter HP Cindy menuju ke sebuah objek. Tampak warna merah berada sekitar 10 meter di hadapan mereka. “Astagaa! Dia mengejar kita!” teriak Andriawan.

Sosok itu kemudian terbang mendekati mereka secepat kilat. Kini, tampak wajah seram hantu itu di depan mereka. Hantu itu tertawa menyeringai di hadapan wajah mereka. Mereka berdua berlari dan tiba-tiba menabrak sebuah dinding. Hantu semakin mendekat. tangannya membawa pisau berlumuran darah.

“Dinding? Gawat!” kata Andriawan sembari memeluk Cindy. Hantu semakin mendekat, lalu diam. “Kita harus lakukan sesuatu, kita tidak mau jadi santapannya.” Bisik Andriawan. Andriawan dan Cindy beranjak. Andriawan langsung menerjang sang hantu, sementara Cindy membantunya. Hantu itu tak lunak, ia membanting tubuh Andriawan dan siap mencekiknya. Tiba-tiba.. hantu itu diam.

“Cin, kamu…” Ternyata Cindy berhasil merebut pisau sang hantu dan menusuk si hantu. Si hantu kian naik pitam, namun Cindy langsung menusuknya kembali pisau itu ke wajah hantu.

Hantu itu kesakitan, tiba-tiba ia menjerit, tertawa mengerikan, menangis, secara tidak jelas. Mengerikan! Suara hantu itu begitu nyaring! Wajah hantu itu berubah-ubah, menjadi wanita tua, anak kecil, laki-laki, menjadi siluman, dan berubah-ubah dengan bunyi mengerikan. Tak lama kemudian, hantu itu lenyap.

Andriawan berpaling. Ia menatap Cindy yang terlihat lemas. Ia kemudian mendekati Cindy. “Kamu tidak apa-apa, Cin?” “Gapapa, kamu sendiri?” Cindy meletakkan telapak tangannya ke pipi Andriawan. Seketika itu, ruangan itu berputar, semakin lama semakin kencang.  “Cin, An kalian gapapa kan?” tiba-tiba suara wanita terdengar. Mereka berdua pun bangun. Ternyata, hari sudah pagi.

“Kami tidak apa-apa, kalian?” “Kami semua terbangun pagi ini, di tempat-tempat kami
ditarik. Syukurlah kita semua tidak kenapa-napa.” Kata Kembon. Mereka kemudian berkumpul di ruang makan. “Guys, ayo ke taman setelah sarapan ini.” Kata Kembon mengajak. Di taman ini, mereka kembali ceria. Mereka saling bercanda, dan tiba-tiba saat mereka berkumpul bersama, Andriawan mendekati Cindy.

“Cin, aku ada yang mau kuberikan ke kamu.” Kata Andriawan.“Apa ya?” Teman-temannya melihat. “Ini.” Kata Andriawan sembari menyodorkan setangkai bunga mawar. “Astaga, ini kan mawar yang kemarin.” Kata Kembon. “Hehehe, thank you, Dri. Aku kasih jawabannya
seusai UNAS ya, sekarang fokus UN dulu.” Kata Cindy.“Hahahahaha..” mereka tertawa bersama.

Hari itu pula, mereka akan kembali ke Surabaya. Mereka tidak betah atas kejadian kemarin. MS mengeluarkan mobilnya dan“(Bremm..Bremm.. Ngungg)”. Mobil MS terlaju dengan kencang. Ya, biasa MS suka ugal-ugalan. “Mek, jangan ngawur dong, nih dah sempit
kamu kebut-kebutan.” Omel Cindy. “Maaf,maaf, hahaha.” Kata MS meredakan lajunya.

“Ngomong-ngomong selanjutnya mau wisata horor tema apa lagi, Cet? Tempatnya di mana?” tanya MS tiba-tiba. “Hmm, setelah di hotel angker, mendengarkan melodi terkutuk, lalu yang ini main Tarot, lanjutnya apa ya? Bagaimana kalau nanti kita wisata horor dengan main Ouija?” kata CT serius.

“Hmm?” tampak wajah serius mereka menuju CT. “Ya, selesai  UNAS nanti kita main Ouija. Lagian ada anggota baru nih, tiga cewek di belakang.” Kata CT sekali lagi. Tampak hening dan semua menatap CT dengan wajah penuh tantangan. (andriawan lumakso)

Auto Europe Car Rental