Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Cerita Horor Santet Sewu Dino (19) : Pindah ke 'Desa Mati'

UCAPAN Dini, membuat Sri kebingungan. Apa yg ia ucapkan, darimana ia dengar, setelah Sri mempertanyakan itu, Dini menunjuk telinga cacat. Ia berujar dengan nada yg lebih percaya diri. "Sak durunge kupingku pedot, Dela mbisiki aku, siji sing bakal selamet kanggo Kembang Klitih" (Sebelum telingaku putus, Dela membisikkan sesuatu kepadaku, satu dari kita yang akan selamat untuk berbagi sari bunga dari sisa santet ini).

Sebuah mobil hitam yang Sri kenal baru saja masuk ke kediaman Atomojo. Sugik melangkah keluar, Sri dan Dini melangkah masuk, setelah berpamitan dengan Mbah Krasa. Sugik mengantar Sri dan Dini, menuju tempat di mana Dela sekarang berada.

"Aku melok berduka ambik kancamu Sri, mbak Din" (Aku ikut berduka ya Sri, Mbak Din) kata Sugik. Ia tidak henti-hentinya memandang Sri dan Dini, yang sejak pertama mereka masuk, tidak ada interaksi di antara mereka. Seakan memilih untuk diam bersama, hal itu, membuat canggung.

Benar dugaan Sri sebelumnya, jalan yang mereka tempuh bukan jalan menuju alas itu, melainkan jalan menuju luar kota, menuju sebuah desa. Ketika mobil masuk ke sebuah gapura, suasana sepi dari kehidupan desa ketika malam, langsung menyambut mereka.

Banyak rumah yang masih menggunakan gedek (bambu anyam) di samping kiri kanan, setiap jengkal rumah, saling berjauhan. Dari dalam mobil, Sri hanya bisa mengamati, tempat ini, tidak berbeda jauh dari nuansa ketika mereka tinggal di hutan. Sri belum melihat satu manusia pun di sini, seakan ini adalah sebuah desa mati.

Mobil masuk ke sebuah gang, dengan pemandangan yang sama. Batu kerikil keras di sepanjang jalan, menambah kesan bahwa desa ini pasti desa pinggiran, jauh dari mana-mana, dan ketika mobil berhenti, saat itulah, Sri melihatnya. Mbah Tamin tengah berdiri di sebuah rumah, menyerupai gaya bangunan pondok dengan atap melebar.



Rumah dengan kayu jati menjadi corak bahan utama, seakan memberitahu Sri ini adalah tempat yg ia janjikan. Mbah Tamin berdiri, di teras rumah, disampingnya, ada Dela. Hal yg membuat Sri dan Dini tidak bisa berhenti melihat hal itu, mereka seakan ngeri dengan pemandangan itu. Dela berdiri persis disamping Mbah Tamin. Senyumanya, menjadi pembuka dari sambutan yang tidak pernah Sri bayangkan.

Sugik melangkah keluar, membuka pintu mobil, Sri dan Dini, ikut keluar, meski dengan langkah ragu, mereka mendekati Mbah Tamin dan Dela, yang sejak tadi, menatap kedatangan mereka. "Mbak Sri ya" kata Dela. Suaranya layaknya seperti gadis muda lainya. "Matur nuwun, purun nerima kerjaan niki nggih mbak" (terimakasih sudah mau menerima pekerjaan ini). (*)
Auto Europe Car Rental