Cerita Horor Santet Sewu Dino (11) : Menemukan Pasak Jagor
Tidak ada yang berubah dari gadis itu. Sebenarnya, bila saja Dela tidak dijahati seperti ini, dia melihat sosok gadis muda yang cantik jelita. Tidak hanya itu, perawakanya memang layak menjadi dambaan bagi pria manapun, namun, nasib seperti mempermainkanya. Sri merasa bersimpati.
Manakala selesai melaksanakan tugasnya, tiba-tiba terpecik pikiran penasaran. Selama ini, bila dipikir-pikir, ia belum pernah masuk kamar Mbah Tamin, hanya melihatnya dari luar. Kira-kira apa yang orang tua itu simpan di dalam kamarnya. Setelah melihat dan memastikan tidak ada orang di sana, Sri membuka pintu itu, yang memang tidak di kunci. Sri melangkah masuk, melihat kamar Mbah Tamin.
Tidak ada yang istimewa, selain benda yang sama yang ditemui di dalam kamar, lalu, mata Sri tertuju pada sebuah almari tua. Ia menemukan pakaian Mbah Tamin, tidak ada apapun di sana, bahkan di antara selipan almari, dari atas hingga bawah. Mata Sri tertuju pada sebuah meja yang sudah usang, di sana, ada sebuah laci kecil. Dengan jantung berdegap kencang, Sri membukanya, kemudian, melihat isinya.
Ia menemukan pasak jagor (boneka isi rumput teki). Bentuknya sudah sangat berantakan akibat dicabik dan ditusuk. Masalahnya, Sri tahu benda apa itu, itu adalah benda yang sering digunakan untuk media santet. Apa yang sebenarnya orang tua itu lakukan. Tidak hanya itu saja, ada beberapa benda lain, sebuah cincin akik dengan batu merah, dan terakhir, sebuah foto usang, di belakangnya tertulis "Keluarga Atmojo".
Ketika Sri memperhatikan foto itu, ia memekik ngeri. Ada Mbah Krasa dan seluruh keluarganya. Kaget, takut, dan merinding, itu yang Sri rasakan. Cepat-cepat ia mengembalikan semuanya, menutup laci itu lagi, kemudian melangkah keluar. Saat Sri membuka pintu, ia tersentak, melihat Erna dan Dini menatapnya kaget. "Lapo koen" (ngapain kamu).
Sri terdiam, berusaha tetap diam. "Gak popo, aku dikongkon si mbah, ngresiki kamare" (semalam, si mbah nyuruh saya membersihkan kamarnya). Meski curiga, Erna dan Dini menerima alasan Sri, ia melewatinya begitu saja, namun, perasaan Sri pagi itu, sudah porak poranda dengan pemikiran-pemikiran gilanya.
Sejak hari itu, setiap kali berpapasan dengan si mbah, Sri seperti terguncang. Ia tidak bisa menutupi ketakutanya. Dari cara melihat si mbah, tampaknya beliau tahu sesuatu dan itu, membuat Sri tidak tenang. Ia seringkali merasa, Mbah Tamin memperhatikan gerak geriknya. Tapi malam itu, Sugik, sopir yang mengantar mereka datang. Keduanya bicara empat mata, seakan ada sesuatu yang mendesak. Wajah Mbah Tamin tampak mengeras.
Sri begitu penasaran, namun kali ini, menahan diri. Sampai akhirnya, pembicaraan itu selesai, si mbah mendekat. "Aku melok Sugik nang omahe Krasa, tulung, jogo omah iki, eling omonganku, yo ndok, mbah percoyo ambek awakmu, tetep lakonono tugasmu, eling yo, paling emben si mbah kaet muleh." (saya akan pergi sama Sugik ke kediaman Krasa, tolong jaga tempat ini, ingat ucapanku. Lusa mungkin saya baru pulang). (*)