Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Skandal Umur di Danone Nations Cup 2008 (3)

PANITIA DNC Jatim 2008 berdasarkan masukan dari tim investigasi yang dibentuk, memang menemukan kebenaran adanya dua akta kelahiran Dhimas. Keduanya dianggap asli. Itu terjadi karena orangtua Dhimas pernah kehilangan akta dengan tahun penerbitan 1997, yang menyatakan Dhimas lahir tahun 1996. Mereka lalu membuatkan akta pada 2003, yang menyatakan Dhimas lahir pada 1995.

Kalau para kuli tinta skeptis, tentu dia akan mengkonfirmasi kepada orangtua Dhimas, benarkah keterangan panitia DNC Jatim 2008? Apalagi, koran besar di Jatim dalam onlinenya (sebelum kemudian dihapus), ada pernyataan, bahwa tim investigasi mengecek rumah sakit tempat Dhimas lahir.

Berdasarkan catatan di rumah sakit itu, Dhimas kelahiran 1995. Logika orang goblok saja. Maka, pertanyaannya, untuk dasar ikut DNC Jatim 2008 itu apa, akta kelahiran kan? Nah, akta kan dibuat dari surat lahir di rumah sakit? Apa rumah sakit berbohong? Jadi, dasarnya apa Dhimas ditulis lahir 1996 di akta? Bapak dan Ibu Dhimas, jujurlah pada hati nurani Anda?

Seperti diketahui, Panitia DNC Jatim 2008, membatasi, even tahun ini hanya boleh diikuti oleh anak kelahiran 1 Januari 1996 sampai 31 Desember 1997. Jika terbukti, memang sanksi yang menanti TP adalah di-blacklist dari DNC seumur hidup.

Anehnya, lagi pelatih TP yang dikonfirmasi malah menghindar. "Saya tidak tahu apa-apa soal itu. Jangan tanya saya," elaknya. Tapi, setelah dicoba lagi untuk meneleponnya, dia malah menonaktifkan ponselnya. Hebat ya, pelatih tim nggak tahu menahu status anak buahnya. Ini baru terjadi di Indonesia. Jangan sampai muncul lagunya Matta lho pak pelatih, eh Kamu Ketahuan, memalsu umur dst.

Lha sekarang monggo, silakan dipertemukan antara pemain, orangtua pemain, pelatih, manajer dan bukti-bukti, apa benar? Jangan dijelaskan oleh satu orang saja, pasti nggak akan ketahuan kebenarannya.


Tanya bidan atau dukun yang melahirkan mereka? Tanya kepala sekolahnya, atau gurunya (yang mudah-mudahan tidak dipaksa untuk memalsu umur, soalnya, ada kepala sekolah yang kabarnya, didatangi petinggi bola lho).  Tanyaapa orangtua, apa mau anaknya diblacklist seumur hidup? 
Janganlah, karena ingin terkenal sesaat, masa depan si anak justru gelap di kemudian hari.

Sepertinya di sepak bola perlu ada semacam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga. Lha, karena para aparat hukumnya sudah telanjur tidak bersih, contonya si Jaksa UTH itu. Tim KPK tentu dapat dengan mudah menyelidiki dan membuktikan, tidak akan takut tekanan dari pihak tertentu.
Ayo, berani nggak orang-orang bersih di sepak bola berbicara, bertindak dan menemukan kebenaran dalam skandal ini!!!!! (*)
Auto Europe Car Rental