Tebak-tebak Buah Manggis Pencapresan Anies Baswedan
TIDAK banyak orang yang ingat bahwa Nasdem adalah salah satu partai yang mendahului menyebut Joko Widodo (Jokowi) menjadi capresnya. Itu terjadi tepat sebulan setelah PDI Perjuangan (PDI-P) secara resmi mendukung Jokowi sebagai calon presiden partai itu.
Kelak, koalisi PDI-P, Nasdem, PKB dan Hanura dengan nama Koalisi Indonesia Hebat akan head to head melawan Koalisi Merah Putih Gerindra, PAN, PPP, PKS dan Golkar. Demokrat terlihat malu-malu meski hati lebih berpihak kepada Prabowo.
Sebagai hasil ikutan, sebagai efek ekor jas atau coattails effect, sebagai partai baru yang pertama ikut pemilu, Nasdem justru beruntung mendapat limpahan suara dari Partai Golkar (sebagai induknya).
Para pendukung Golkar konon kecewa karena Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum memilih turut masuk koalisi besutan Prabowo, bukan justru mencalonkan kadernya masuk bursa capres.
Nasdem dianggap sukses sebagai partai baru yang mampu mencapai posisi setara PKS dan menyalip posisi Hanura dan PPP. Partai Bulan Bintang (PBB) milik Yusril Mahendra pun justru tak lolos hadir di Parlemen.
Seperti semakin menancapkan matang posisinya, pada Pilpres 2019 dengan tetap menjadi garis keras Jokowi, Nasdem melesat menjadi partai terbesar nomor 5 bahkan mengungguli Demokrat, PKS, PAN hingga PPP. Itu jelas pencapaian luar biasa.
Kini, seperti ingin mengukir sukses teori coattails effect saat menjagokan Jokowi, Nasdem bermimpi menjadi partai lebih besar lagi. Ada mimpi dari partai itu menyusul pencapaian PDI Perjuangan sebagai partai terbesar, Nasdem mencalonkan Anies Baswedan.
Itu bukan tanpa alasan. Sama seperti survei Jokowi di 2013 menjelang 2014 yang demikian tinggi, fenomenal Anies pada banyak survei berbicara mirip keadaan itu. Sudah gitu, kesan yang lebih nampol, sama seperti Jokowi, Anies adalah Gubernur DKI Jakarta.
Itu seperti klop teori ahli nujum. "Benarkah Nasdem akan sesukses dan seberuntung seperti dua pemilu sebelumnya?"
Kabar buruk justru terdengar seorang ahli pidana kelas kakap, yakni Profesor Romli Atmasasmita. "Dipastikan kasus Formula E merupakan delik penyertaan (deelneming), ada pelaku, turut serta melakukan dan yang disuruh melakukan," ujanya.
Dugaan korupsi dalam penyelenggaraan Formula E tengah diselidiki KPK. Romli Atmasasmita menilai bahwa di sana, dalam penyelenggaraan Formula E tersebut. ada unsur niat jahat (mens rea).
Artinya, menurut Romli, pada peristiwa penyelenggaraan Formula E itu terdapat unsur atau adanya niat jahat. Di sana ada unsur perbuatan yang dapat dipidana.
Lebih jauh, Romli mengatakan bahwa pertimbangannya pun sangat sederhana. Menurutnya, sejak awal Gubernur DKI itu dan kawan-kawan sudah mengetahui bahwa di dalam APBD DKI tahun anggaran 2019 tidak terdapat adanya pos anggaran untuk kegiatan Formula E.
Di sana, Gubernur sangat sadar tidak memiliki landasan keuangan yang sah sesuai PP tentang Pengelolaan Keuangan Daerah DKI. Anehnya, justru terkesan tetap memaksakan terselenggaranya Formula E dengan cara memberikan kuasa kepada Kadispora untuk melakukan pinjaman ke BANK DKI (BUMD).
Selanjutnya, Pemprov DKI juga telah melakukan perjanjian dengan pihak Formula E menggunakan pendekatan B to G yang bersifat mengikat. Konon itu jelas melanggar persetujuan Kemendagri yang mengharuskan Business to Business.
Di sana, ada data bahwa mereka telah melakukan pembayaran commitment fee kepada pihak Formula E tanpa dasar APBD dan Persetujuan DPRD. Arahnya, konon katanya itu tidak dapat dibatalkan atau tak dapat ditarik kembali.
Atas hal itu, Romli mengatakan bahwa berdasarkan fakta tersebut, maka perbuatan Gubernur dan kawan-kawan, termasuk perbuatan melawan hukum yang merugikan keuangan negara atau melakukan Perbuatan Melawan Hukum.
Selain itu, pak Gubernur dinilai mengabaikan dan atau tidak mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di sana ada kerugian negara yang bersifat total loss.
Bisa jadi, apa yang disampaikan oleh Prof Romli ini akan menjadi pembuka atas penyelidikan yang lebih intensif atas fenomena aneh Formula E tersebut. Ini tentang hukum yang tak berpihak.
Bagi para pendukungnya, ini jelas akan mereka sebut sebagai tindakan zalim pada sosok calon pemimpin idaman rakyat. "Apakah kabar ini akan memberi pengaruh negatif pada Nasdem kelak?"
Yang jelas, hijrah banyak kadernya serta merta ramai kita dengar. Niluh Djelantik bereaksi dan menyatakan diri keluar dari partai itu.
"Niluh Djelantik konsisten tegak lurus pada perjuangan untuk rakyat bersama rakyat dengan atau tanpa partai politik. Sikapku tegas, Integritasku jelas."
Selain Niluh, salah satu kader dari Kalimantan Barat yang juga peserta pileg 2019 dari partai itu dikabarkan juga langsung minta mundur.
Sepertinya, hijrah banyak kader nasionalis Nasdem bukan reka-reka belaka. Seperti banjir bandang, para kader mereka akan ramai-ramai keluar.
Seperti tsunami, pendukung atau pemilih partai itu pun akan hijrah. Entah kemana, itu tak penting lagi, yang jelas mereka HARUS KABUR tanpa unsur basa basi lagi.
"Tapi bukankah memang terdengar seperti kisah konspirasi?"
Bagi para cerdik pintar, para licik culas pemain strategi otak atik gathuk politik dan kebijakan, turun gunung SBY akan tetap menjadi referensi. Ini tentang galau beliau atas informasi A1 yang masuk padanya.
Dalam konteks konspirasi itu, Nasdem tidak pernah dan mungkin bergerak sendiri. Dia pasti terafiliasi dengan pihak ketiga, siapapun itu. Itu mustahil tanpa hadirnya invisible man.
Cara kita melihat trik politik seperti yang dilakukan oleh Nasdem dengan kacamata polos, hanya akan membuat kita tersesat.
Maksudnya?
Sekali lagi, tengoklah kembali apa alasan yang pernah diungkap oleh SBY saat beliau berikrar untuk kembali turun gunung. Dia mantan Penguasa nomor 1 selama 10 tahun, dia pasti punya alasan kuat mengatakan hal itu.
"Jadi?"
Sumber: @Leonita_Lestari