Quo Vadis Eropa? Quo Vadis Ukraina?
MENDEKATNYA Donald Trump kepada Vladimir Putin bukan sekadar kepentingan Trump untuk menjalankan janji kampanyenya melainkan juga didorong oleh faktor domestik Amerika Serikat yang begitu tertekan oleh tekanan hutang dan tekanan ekonomi yang lain.
Dengan semakin menguatnya Cina (Tiongkok), Amerika membutuhkan semua sumber daya untuk dialokasikan di Pasifik dan Asia. Tekanan Trump pada NATO agar negara-negara Eropa segera mengambil alih tanggung jawab keamanan di Eropa baik secara finansial maupun militer menunjukkan bahwa isunya bukan hanya menyelesaikan konflik Ukraina.
Tapi, ada isu yang lebih strategis terkait strategi militer Amerika jangka panjang untuk menggeser zona peperangan dari Eropa ke Asia.
Amerika akan memfokuskan diri pada pengawalan Asia dan Pasifik dan mengamankan kepentingan NATO di Asia Pasifik sebagai trade off-nya. Pembagian tugas ini rasional tetapi mungkin tidak bisa menjawab kebutuhan emosional para pemimpin Eropa yang selama beberapa pekan ini jelas mengalami shock berat, dan tergopoh-gopoh membangun strategi untuk mengantisipasi perkembangan yang terjadi begitu cepat.
Amerika membutuhkan exit point dan itu hanya bisa dicapai dengan perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Trump sepertinya akan menerima sebagian besar syarat-syarat dari Rusia. Mengingat bukan hanya Ukraina yang kehabisan kartu, tetapi dalam dinamika geopolitik jangka panjang Amerika juga mulai kehabisan kartu.
Ruang lebar yang dibuka Trump kepada Putin menunjukkan hal ini. Ancaman Cina dan rapuhnya ekonomi domestik Amerika membutuhkan tindakan cepat dan radikal yang kadang berlawanan dengan garis tradisional geopolitik yang selama ini diterima publik. Trump orang yang sangat rasional dan realis.
Pilihan negosiasi dengan Putin adalah pilihan yang paling rasional, mudah, dan murah dilakukan. Zelensky jelas tidak punya kartu, sementara Eropa membutuhkan banyak sekali negosiasi-negosiasi internal hingga mereka bisa mencapai konsolidasi yang dibutuhkan agar bisa mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Amerika di Ukraina.
Mengapa membutuhkan negosiasi internal yang panjang. Ada banyak alasan. Pertama tentu saja kita melihat ada kelelahan politik yang luar biasa di kalangan rakyat negara-negara Eropa yang ini nampak dengan meningkatnya politik kanan dan menguatnya sentimen sentimen nasionalis garis keras yang melawan upaya-upaya penyatuan Eropa selama ini.
Pemilihan di Jerman baru-baru ini jelas menandakan hal tersebut.
Kedua, strategi Uni Eropa merespon keluarnya Amerika dari Ukraina nampak hanya didominasi oleh dua pemain Inggris dan Perancis sementara negara-negara besar seperti Jerman, Italia, bahkan Polandia nampak tidak sepakat dengan kehendak Macron dan juga Starmer untuk membawa pasukan perdamaian Eropa di Ukraina.
Keengganan ini rasional karena kondisi militer di Eropa secara akumulatif jelas tidak bisa menandingi Rusia. Ini terkait dengan yang ketiga konsolidasi militer Eropa untuk bisa menggantikan peran Amerika di Ukraina membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang baik secara legal formal maupun secara teknis persenjataan.
Secara teknologi, sumber daya, integrasi koordinasi, dan dukungan politik domestik dari negara-negara Eropa sangat sulit untuk mendukung hal tersebut.
Keempat tentu saja, kondisi ekonomi di negara-negara Eropa telah sebegitu lemahnya akibat tekanan peperangan sehingga dorongan untuk melakukan upaya-upaya militer lebih jauh itu kurang mendapat dukungan baik secara politik para elite nasional, rakyat masing-masing ke Eropa maupun secara finansial akibat kondisi keuangan domestik.
Jerman jelas tidak mau menjadi kuda beban untuk menopang misi "bunuh diri" pasukan Eropa di Ukraina, sementara sementara Inggris di luar pagar Uni Eropa, dan Prancis jelas tidak bisa menopang sendirian juga.
Jadi bagaimana ke depannya?
Upaya penyelesaian konflik Ukraina kemungkinan akan berakhir pada gencatan senjata meskipun Trump dan rutin ingin penyelesaian secara genuine atau paripurna. Ukraina maupun Eropa menghalangi kemungkinan pencapaian solusi genuine ini.
Upaya pembekuan konflik seperti dalam perang Korea jelas akan ditentang oleh Putin yang membutuhkan penyelesaian yang lebih kuat.
Bagaimana dengan pembangunan kekuatan militer di Eropa? Benar bahwa dorongan remiliterisasi Eropa itu sangat kuat saat ini, tetapi sejarah juga membuktikan bahwa upaya-upaya diplomasi di tingkat kontinental itu bergerak sangat lambat ketika diterapkan di masing-masing negara.
Dalam situasi ekonomi saat ini prioritas anggaran dan tekanan domestik akan membatasi alokasi finansial dan sumber daya politik untuk penguatan senjata di Eropa.
Cita-cita mempersenjatai kembali Eropa kemungkinan baru bisa terwujud dalam 15 atau 20 tahun ke depan. Mengapa demikian?
Selain faktor-faktor di atas kemadekan industri militer di Eropa, keberagaman standar militer di Eropa, rintangan-rintangan kebijakan dan standar hukum di masing-masing negara keterbatasan sumber daya manusia dan teknologi, menyebabkan cita-cita remiliterisasi Eropa ini akan membutuhkan waktu lama untuk terwujud.
Lantas apa dalam jangka pendek? Mau tidak mau Eropa akan mengikuti agenda Trump meskipun tidak 100%. Dukungan-dukungan Eropa kepada Ukraina telah mencapai batas yang kecil kemungkinan bisa dinaikkan lagi levelnya.
Maksimal yang bisa dilakukan adalah meningkatkan ruang tawar Ukraina, mencari kemenangan-kemenangan kecil dalam negosiasi, dan hal-hal sejenis.
Seperti biasa riuhnya Inggris dan Perancis tidak akan berdampak banyak pada resolusi geopolitik yang sesungguhnya. Keriuhan mereka hanya menunjukkan sisa-sisa imperialisme dan kolonialisme abad ke-19 yang abunya terbang ditiup angin.
Oleh: Cyprianus Lilik KP
Sumber: WAG KMK Fisipol