Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kenapa Taliban Bisa Berkuasa Lagi?


SAYA mau cerita pengalaman berada di Afghanistan saat Taliban kehilangan kekuasaannya, 20 tahun lalu. Dari cerita itu kita bisa sedikit tahu kenapa sekarang mereka bisa berkuasa lagi.

Jadi, gak lama setelah tragedi 9/11, AS menyerang Afghanistan karena Taliban yang berkuasa menyembunyikan Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda yang dianggap mendalangi aksi teror itu.

AS datang dibantu Aliansi Utara yang bersuku Tajik di utara dan pasukan Ahmad Shah Massoud (Pashtun) di timur dan selatan. Hanya butuh beberapa minggu untuk merebut Kabul.

Saya dikirim ketika Taliban sudah terdesak ke selatan, tapi masih berkuasa. Saya turun di Pakistan dengan harapan bisa masuk lewat Kandahar. Tapi di Kandahar, pasukan Taliban melarang. Alasannya, mereka gak bisa jamin keamanan saya.

Di hotel, saya ketemu seorang fixer yang baru mengantar wartawan Rusia masuk Afghan dari Pakistan. Caranya, dimasukkan ke karung beras. Di perbatasan, karungnya ditusuk2 pedang, dan pedang itu lewat di depan hidungnya.

Saya mau pakai jasanya, tapi gak mau dikarungin. Dia putar otak, telpon sana-sini, lalu memutuskan memasukkan saya lewat dataran tinggi di timur. Setelah naik turun gunung dan dikejar tentara, kami bisa masuk Afghan.

Perlu beberapa hari untuk sampai kota terbesar di sebelah timur: Jalalabad. Sepanjang jalan, semua kota seperti kota mati. Mencekam.

Selama beberapa hari, gak lihat perempuan sama sekali. Pengaruh Taliban masih kuat, perempuan disembunyikan dalam rumah dan tidak boleh sekolah atau beraktivitas di luar. Jadi, gak heran ada kejadian pilu seperti yang dialami Malala Yousafzai.

Sebenernya, sekolah cuma ada di kota besar. Di kota-kota kecil, sekolah sudah jadi markas militer. Saya sekali nginep di markas bekas sekolah. Tidur di lantai dengan granat dan peluru di sebelah (kolong ranjang).

Ada kebodohan saya yang hampir buat tewas (koit). Di markas itu saya dikerubungi belasan milisi yang semua mengacungkan senjata terkokang. Udah kayak di film-film. Dengkul lemes. Salah gue apa? “Kamu pakai telepon satelit. Bahaya, bisa dilacak,” kata komandan yang selametin saya (duduk di tengah).

Jadi, di sana itu setiap daerah segede kecamatan dikuasai war lord. Setiap mau melintas harus izin dulu, kadang malah bayar. Mereka ini punya pasukan sendiri.

Para warlord ini berkuasa banget. Ada kejadian lagi, saya hampir mampus dan ini ada hubungannya sama war lord. Dalam perjalanan Jalalabad-Kabul, seorang milisi bawa senapan mesin ingin ikut mobil kami. Fixer sudah melarang, tapi dia ngotot.

Oke, akhirnya disetujui, tapi fixer bilang, “Kamu jangan ngomong apapun. Apapun.” Salah saya, pas dia masuk mobil, saya kasih salam, “Assalamualaikum.” Dia tahu logat saya bukan logat Afghan. Dia marah, menuduh saya intel AS dan mau bunuh saya.

Fixer meyakinkan dia, kalau saya bukan intel AS. Saya diminta baca Quran. Tidak mempan, menurutnya bisa saja intel AS baca Quran. Ya, juga sih. Dia meletakkan moncong senjatanya di dada saya, ngokang, dan siap bunuh.

Saya pasrah, ya sudahlah ya. Kalau memang mati, ya mati aja. Saya cuma mau salat 2 rakaat di batu gede di pinggir jalan. Eh, pas gitu tiba-tiba dia gak jadi membunuh. Lega, tapi gak tahu kenapa. Pas dia udah turun, fixer cerita sebabnya.

“Saya bilang, kau boleh bunuh dia, tapi bunuh saya dulu,” kata fixer ke milisi. “Emang kau siapa?” tanyanya. “Saya teman baik war lord X.” Milisi itu ngeper dan batal bunuh saya. “Lah, kalau dia gak takut sama war lord gimana?” tanya gue. “Ya, kita mati bedua hahaha,” kata fixer itu.

Para war lord gak loyal pada kekuasaan mana pun. Jadi, pragmatis banget? Yup. Tergantung siapa yang bayar. Jadi, kalau di Indonesia orang punya duit nyaleg, di sana orang punya pengaruh akan bikin milisi.

Ini yang membuat kekuasaan di Afghanistan fragile. Siapa yang kuat lobi dan duitnya kepada para warlord akan mendapatkan dukungan. Di Afghanistan, konflik adalah bisnis.

Mau bisnis apa lagi di tengah orang-orang yang tak terpelajar, terisolir, dan semua pegang senjata. Di setiap rumah ada AK-47. Anak-anak lebih dulu belajar nembak dari baca-tulis.

Ada bisnis lain, opium. Dalam keadaan tanpa kekuasaan, para warlord punya atau lindungi ladang opium. Dari pinggir jalan utama kita bisa lihat ladang ini.

Taliban, tentu gak bisa gerak sendiri. Pasti ada yang mendanai untuk menggaet para war lord. Meski mereka taliban (santri), tapi politik mereka bukan soal agama. Ini bener-bener pragmatis banget. Dan para war lord gak mau gabung cuma diiming-imingi surga.

Kelompok-kelompok ini bersatu kalau ada musuh bersama, kayak Uni Soviet. Tapi itu juga karena ada AS yang membayarnya. Setelah Uni Soviet kabur dan kolaps, para mujahidin berantem sendiri, kudeta mulu kerjaannya.

Taliban pada pertengahan 1990-an muncul karena geram sama berantemnya para warlord ini. Tapi, akhirnya, dia masuk putaran yang sama. Apa yang terjadi beberapa hari lalu ya sebenernya kelanjutan aja dari konflik selama puluhan tahun.

Siapa yg memimpin Taliban saat ini? Namanya Mullah Baradar. Dia ditangkap pada 2010 di Pakistan. Tapi pemerintah Donald Trump pada 2018 minta Pakistan membebaskannya. Sekarang Mullah Baradar pemimpin Taliban dan "presiden" de facto Afghan.

Simpulkan sendiri hehehe. Dulu, saat Taliban berkuada, semua tempat hiburan diberangus. Bahkan orang main layangan dilarang. Alasannya? Haram.

Nah, pas saya sampe, masyarakat Afghanistan lagi merayakan kebebasan mrk lg. Bioskop dibuka lagi, meski filmnya film jadul. Jadi, bisa kebayang kalau rakyat Afghan saat ini gak mau hidup di bawah tekanan Taliban. Bioskop dan hiburan tentu hal remeh. Yang lebih penting soal keamanan.

Kenapa? Gini, setiap terjadi perebutan kekuasaan kayak gini, negara akan goncang terus selama bbrp tahun utk cari titik keseimbangan. Artinya, pertempuran akan jadi makanan sehari-hari. Tentara dan pemberontak akan pakai semua fasilitas untuk perang.

Bahkan hotel yang saya tinggali di Ahmadabad ini jadi markas tentara. Gimana bisa tidur pules?

Istana-istana kerajaan zaman dulu dipakai oleh war lord dan komandan Taliban untuk markas tentara mereka. Pokoknya apapun dipakai untuk perang. Tak heran banyak yang ingin mengungsi.

Ada yang bertanya, apa sih yang buat masyarakat Afghanistan begitu mudah dikoyak? Ada byk faktor, tentu. Eksternal dan internal, tapi ada yang sangat penting: PENDIDIKAN.

Hal yang paling hancur semasa konflik puluhan tahun adalah pendidikan. Orang dewasa yang bisa baca cuma 12%. Wajar, sepanjang hidup mereka cuma lihat perang.

Tingkat melek huruf di kalangan anak muda udah sampe 58% karena mereka hidup di masa "damai" (relatif) setelah Taliban digusur 20 tahun lalu. Jadi, pendidikan akan nyungsep lagi dan makin banyak orang yang bisa diadu domba.

Ada banyak hal positif dari masyarakat Afghanistan yang tak lekang oleh waktu. Di antaranya soal hospitality. Kalau udah jadi tamu mereka, kita gak cuma dijamu, tapi dijaga juga nyawa kita. Beberapa kali mereka pasang badan saat saya dalam bahaya.

Masyarakat Afghanistan juga terkenal ulet. Selalu cepat recover setelah dihancurkan oleh para kelompok yang berseteru.
 
Sumber: Qaris Tajudin (@QarisT), 17 Agustus 2021.

Auto Europe Car Rental