Cerita Horor Santet Sewu Dino (22) : Rayuan Dela kepada Sri
Di dahinya, ia terus berkeringat, berkali-kali, ia tampak seperti orang yang meracau, mengatakan sesuatu seperti "peteng" (gelap). Namun, Sri telaten, membersihkan keringat Dini, membantu Dini agar bisa tidur dengan posisi yang benar. Ia terus menjaga Dini sepanjang malam, si mbah, tidak juga kembali.
Semakin malam, Dini semakin kacau. Ia menjerit, seperti tengah berlari, nafasnya terengah-engah. Yang membuat Sri tersentak ketika Dini mengatakan "Pak' e ndelok, pak 'e ndelok!! Aku dikejar, aku dikejar!!" (Bapaknya melihat saya, bapaknya sudah melihat, saya dikejar, saya dikejar).
Badan Dini, tiba-tiba panas, panas sekali. Sri mulai khawatir, bingung harus apa. Tidak beberapa lama, Mbah Tamin kembali, ia hanya menepuk bahu Dini, dan langsung bangun. Wajahnya tampak kaget, seperti ingin mengatakan sesuatu. Ia urungkan saat melihat Mbah Tamin melotot, seakan menahan bahwa ia tidak boleh mengatakanya di sini.
Mbah Tamin dan Dini keluar, Sri tidak mengerti, kenapa si mbah seakan menghindarinya. Setelah menunggu, si mbah memanggil Sri, menyuruhnya agar kembali ke kamar, perjalanan ke kamar Sri, melewati sebuah kamar tanpa pintu. Di sana, ada Dela melihatnya, ia hanya tersenyum menatap Sri. Hal terakhir yg Sri ingat saat melihat Dela adalah, ia seakan memberitahu, bahwa akhir dari semuanya, adalah rumah ini.
Rumah, yang akan Sri ingat sampai akhir nanti. Sri menutup pintu, menguncinya, ia terlalu lelah malam ini. apa yang ia lihat, ingin ia lupakan dalam tidurnya. Saat Sri memejamkan mata. Seseorang membelai rambutnya. memakasanya untuk melihat sesiapa yang tengah menganggu tidurnya. "Dela" kata Sri saat melihatnya. "Kok isok" (bagaimana bisa).
"Aku, ket mau nang njero kamarmu loh Sri, nang ngisor bayangmu, wong tuwek iku, gak goleki aku kan." (Aku dari tadi sebenarnya ada di dalam kamarmu loh Sri, tepatnya di bawah ranjangmu, apa orang tua itu masih mencari saya). "Aku jalok tolong, sak iki, nyowomu nang tangane wong tuwek iku, nek awakmu nuruti aku, awakmu isok selamet, lan tak duduhi perkara masalahe, awakmu percoyo ambek aku ndok."
(Aku minta tolong, sekarang, nyawamu ada di tangan si mbah, kalau kamu menuruti apa kata saya kamu akan selamat, dan tak kasih tahu sumber masalahnya, kamu percaya sama saya kan). "Tulung opo" tanya Sri ragu. ia masih ingat bagaimana ia melakukan kesalahan fatal itu.
"Obongen payung pendusan iku gawe aku." (Bakar payung orang meninggal itu, untuk saya). Dela melangkah pergi, ia memberikan tatapan terakhir kepada Sri, seakan yakin, Sri akan melakukannya 'perintahnya'. (*)