Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Jejak Radikal Prabowo Subianto


PRABOWO bukanlah seorang muslim yang taat namun dia menggunakan sentimen agama Islam sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Inilah yang menjelaskan mengapa di satu sisi dia bermesraan dengan golongan Islam garis keras tapi di sisi lain ikut perayaan Natal bersama saudara-saudarannya.

Hubungan Prabowo dengan kalangan Islam garis keras bukan terjadi belakangan ini saja melainkan sejak dulu ketika dia masih aktif sebagai perwira ABRI. Berawal dari perseteruannya dgn LB Moerdani. Prabowo yg saat itu adalah menantu Presiden tak bisa menerima karirnya terhambat.

Namun di satu sisi posisi dan pengaruh LB Moerdani saat itu sedang kuat-kuatnya di ABRI. Maka dicarilah alasan untuk melemahkannya, jawabannya adalah Islam. Di lingkungan tentara kepatuhan terhadap pimpinan adalah mutlak, jadi sangat sulit menggerogoti pengaruh LB Moerdani saat itu.


Dengan isu agama situasinya jadi berbeda. Inilah alasannya mengapa Prabowo menggunakan Islam sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Dalam suatu kesempatan Prabowo pernah terang-terangan menyampaikan "bila terjadi perselisihan antara tentara dan umat Islam, dirinya akan lebih berpihak kepada Islam ketimbang profesinya sebagai tentara."

Hal ini dikonfirmasi oleh Ansufri Idrus Sambo, yang pernah menjadi guru mengaji Prabowo: "Motor gerakan Islam di tubuh militer itu, ya, Prabowo". Selanjutnya Prabowo sering melakukan konsolidasi antar sesama perwira menengah ABRI seperti Mayor Kivlan Zen, Mayor Ismed Yuzairi, Mayor Safrie Syamsuddin, Mayor Glen Kairupan dan lain-lain.

Selain itu, dengan status istimewanya sebagai menantu Soeharto Prabowo juga mulai merekrut beberapa perwira tinggi yg mengharapkan dapat benefit dari bergabung dalam klik politiknya Prabowo. Salah, satunya adalah Komandan SESKOAD Mayjen TNI Feisal Tanjung, yg sudah 7 tahun stagnan dengan pangkat Mayjen.

Feisal Tanjung mendadak menjadi 'Jenderal Islam' yg kemana2 pakai kopiah dan baju koko. Dan di saat yg bersamaan karirnya mulai moncer hingga menjadi PANGAB. Selain Feisal Tanjung ada juga Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI R. Hartono yg berhasil direkrut Prabowo. Bersama R Hartono, Prabowo mendirikan CPDS (Center Policy for Development Studies). Lembaga ini merekrut 'perwira-perwira Islam' dalam klik politik Prabowo di tubuh ABRI.

Inilah awalnya ketika ABRI terbagi menjadi ABRI Hijau dan ABRI Merah-Putih. ABRI Hijau adalah kelompok Prabowo dkk, sedangkan ABRI Merah-Putih adalah kelompok Try Sutrisno, Edy Sudrajad dkk. Karena mengharapkan 'mobilitas vertikal' maka banyak perwira yg memutuskan bergabung dengan Prabowo yg mantu Presiden Soeharto itu.

Jadi, di sini terjadi simbiosis mutualisme. Mereka dibantu karirnya sedangkan Prabowo mendapat pengikut untuk ambisi pribadinya. Tak cukup sampai disitu, Prabowo juga mulai mendekati dan membina golongan Islam garis keras dari kalangan sipil. Salah satu yg dibina dan dibesarkan Prabowo adalah KISDI pimpinan Ahmad Sumargono.

Jika ada yg bilang radikalisme baru tumbuh subur setelah era reformasi maka itu kurang tepat. Ormas-ormas radikal itu sudah mulai dibina dan ditumbuh-suburkan sejak akhir-akhir kekuasaan Soeharto. Dan, Prabowo adalah perwira yg secara aktif membina ormas-ormas itu. Pada masa-masa krisis tahun 1998, adalah saatnya ormas radikal binaan tersebut menunjukkan fungsinya. Ketika itu hampir terjadi bentrokan antara para mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR dengan massa KISDI pimpinan Ahmad Sumargono.

Tiba-tiba dari arah pintu belakang, massa dalam jumlah besar merangsek masuk areal parkir Gedung DPR/MPR. Mereka membawa bendera bertuliskan KISDI. Para mahasiswa membuat pagar dengan bergandengan satu sama lain sambil melangkah mundur. Massa KISDI maju dengan memukul, menendang, menunjuk ke arah mahasiswa sambil berteriak; "KALIAN NEO KOMUNIS!!". Jadi dulu,  para mahasiswa yang melahirkan era reformasi itu juga sudah dicap komunis.

Fitnah serupa, yang sekarang masih mereka gunakan kepada lawan-lawan Prabowo. Massa KISDI terus maju hingga menduduki areal tangga Gedung DPR/MPR. Mereka bertakbir sambil terus berteriak; PERJUANGAN KALIAN MAHASISWA TIDAK SUCI LAGI! KALIAN NEO KOMUNIS! Tak lama kemudian mereka bubar untuk salat Jumat. Selesai salat, datang massa dalam jumlah besar memasuki areal Gedung DPR/MPR dengan membawa bendera NU untuk melindungi mahasiswa.

Massa Banser NU lalu menduduki areal Tangga DPR/MPR. Tak lama kemudian massa KISDI datang dari arah Masjid, mencoba merangsek lagi. Langkah mereka terhenti hanya sampai samping tangga DPR/MPR, akibat tertahan oleh blokade Massa NU. Mayoritas dari mereka tampak terkejut melihat Bendera NU berkibar, dan berada di pihak Mahasiswa. Dalam hitungan menit, satu demi satu massa KISDI itu pun meninggalkan areal Gedung DPR/MPR.

Perkembangan selanjutnya adalah sejarah, Soeharto jatuh dan Prabowo yg selama ini memanfaatkan statusnya sebagai menantu Presiden itu ikut jatuh bersama sang mertua. Dan 'jaringan Islam' yg dibina Prabowo untuk meraih kekuasaan itu pun akhirnya satu persatu mengkhianatinya. KISDI akhirnya memutuskan menjaga jarak dgn Prabowo. KH Abdul Qadir Jaelani tokoh KISDI berjanji tak lagi berhubungan dgn Prabowo utk melakukan manuver² politik.


Alasannya, sangat pragmatis, KISDI menganggap Prabowo tak lagi memiliki kekuatan utk mencapai tujuan perjuangan mereka. Bahkan, Feisal Tanjung yang karirnya terbantu akibat ikut dalam klik politik Prabowo itu, menyelamatkan diri sendiri atas kasus penculikan aktivis dengan mengatakan; "Tak seorang pun, bahkan tidak pula dirinya secara bebas bisa memasuki wilayah Kopassus yang dikendalikan oleh Prabowo."

Dengan jatuhnya Prabowo maka jaringan Islam radikal yang sebelumnya dibina oleh Prabowo, akhirnya memilih bergabung dengan Wiranto, sebagai patron baru mereka. Maka pada 17 Agustus 1998 lahirlah FPI. Demikian jejak radikal Prabowo. Sejarah hubungan panjang Prabowo dengan kalangan Islam bukan karena dia seorang muslim yg taat melainkan semata2 alat untuk mencapai kekuasaan.

Di sisi lain mereka pun memanfaatkan posisi kuat Prabowo sebagai menantu Presiden. Simbiosis mutualisme. Bagi Prabowo bukan Islamnya tetapi bagaimana meraih kekuasaan dengan memanfaatkan golongan Islam. Demikian juga terhadap pihak2 lain, Kristen, China, dan lain-lain. Namun ingat2lah, cara2 politik identitas itu sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa dan negara ini!

Sekian kultwit kami. Semoga mencerahkan dan menambah wawasan kita semua. Terima kasih.

Sumber : @PartaiSocmed, 3 Februari 2019.
Auto Europe Car Rental