Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Pakde Didi Kempot adalah Broken Heart itu Sendiri

DI dunia ini, tak ada yang bisa menandingi Didi Kempot. Bahkan, Robbie Williams, Frank Sinatra, Nat King Cole, semuanya tak bisa. Didi Kempot adalah semesta yang lain. Dan ya, sebutan “God Father of Broken Heart” ini kurang tepat. Didi Kempot adalah broken heart itu sendiri. Saya bertemu langsung dengan beliau pertama kali enam tahun lalu di Sahid Jaya.

Saya meminta foto. Dari jarak sangat dekat, aura patah hati itu terasa sekali. Bersama Didi Kempot, kau bisa patah hati bahkan tanpa perlu jatuh cinta. Saat bertemu dengan saya, beliau memakai kaos bertuliskan huruf LE. ini bukan huruf biasa, melainkan dua huruf awal dan akhir dari kata LOVE. Ada semiotika di sana. Cinta itu soal mengawali dan mengakhiri.

Sedangkan perjalanannya, adalah petualangan yang penuh misteri. Didi Kempot bukan semata penyanyi. Ia adalah dimensi waktu. Maka tak berlebihan jika kemudian ada istilah “Waktu Indonesia bagian kembang tebu sing kabur kanginan”

Ia penyanyi yang mampu menembus sekat-sekat ketidakmungkinan. “Sewu kuto, uwis tak liwati,” ujarnya dalam lagunya. Padahal jumlah kota dan kabupaten di Indonesia hanya 415. Artinya, ia menembus batas negara untuk mengejar cinta sucinya.
Terakhir. Maaf, Didi Kempot ternyata bukan penyanyi. Saya salah besar. Dialah nyanyian itu sendiri. Apa, masih mau diteruskan puja-puji atas Didi Kempot ini?
Tak butuh banyak aktu untuk dengan mentap mengatakan Didi Kempot jauh lebih besar ketimbang Jokowi. Jokowi hanya bisa kerja, kerja, kerja. Didi Kempot mampu menanggung nelangsa, nelangsa, nelangsa.

Cobalah kau sesekali menonton konsernya. Konser yang akan terasa sangat aneh, sebab tak ada air mata yang menetes, namun kepedihan terasa mengalir deras sekali. Katon Bagaskara membuat Jogja menjadi tempat yang melemparkan ingatan masa lalunya, sedangkan John Denver dengan West Virginia-nya.

Namun Didi Kempot, baginya kenangan bisa tercecer di mana saja. Di Stasiun Balapan, di Terminal Tirtonadi, di Terminal terminal Kertonegoro, di Pantai Klayar, di Tanjung Mas, di Gunung Purba Nglanggeran. Semuanya adalah lumbung-lumbung kenangan.


Didi Kempot tidak pernah menyanyikan lagu, lagulah yang menyanyikan Didi Kempot. Semua ibu melahirkan anak, tapi tidak dengan ibunda Didi Kempot, ia melahirkan legenda. Di tangan Didi kempot, bahkan negara seperti Swiss yang kuat tanpa tentara itu pun bisa luluh menjadi pesakitan. (Swiss sakmestine, ati iki nelongso).

Sumber : Agus Mulyadi (@AgusMagelangan), 10 Juni 2019.
Auto Europe Car Rental