Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kenapa Saya Menyukai Dunia Literasi?

DULU, saya adalah orang yang sangat tidak suka membaca, apalagi membaca novel dan buku nonfiksi. Bahkan, saya sempat muak dengan orang-orang yang sampai terlena oleh kisah di novel. Saya sempat merasa risih dengan teman sebangku, dia asyik sekali tertawa dengan novelnya. Lebih asyik daripada bicara dengan saya. Muncul pertanyaan, kenapa orang-orang rela membeli novel yang mahal harganya?

Daya tarik apa yang dipakai oleh penulis lewat karyanya yang bahkan tidak nyata? Ketika kelas 8, sekolah membuat taman baca di depan kelas. Taman baca itu berada di 8F dan 8I, tepatnya kelas saya. Dalam waktu lama, saya tidak mau masuk ke situ. Malas, harus buka sepatu. Lagi pula buku-buku yang terpanjang di sana, judulnya tidak menarik. Sebagian besar buku nonfiksi dan saya tidak suka.

Sampai akhirnya, ada teman mengajak saya masuk taman baca itu. Oke, saya menurut. tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu setelah ini, saya menjadi suka membaca. Novel pertama yang saya ambil dan saya baca adalah Cinta Dalam Kardus, karya Raditya Dika. Cukup tebal bukunya, saya lupa berapa halaman. Saya membuka lembar demi lembar, berharap menemukan jiwa membaca saya di sana.

Tapi nihil, sangat membosankan dengan novel setebal itu. Tidak sampai 10 halaman, saya taruh kembali novel itu di rak. Saya kembali ke kelas, tiduran. Esoknya, saya masuk taman baca itu. Saya mengambil salah satu buku dengan judul yang menarik : Sampah Bulan Desember, karya Hamsad Rangkuti. Ternyata, buku itu juga tidak mampu memunculkan jiwa literasi saya. Saya sempat menyerah, saya tidak suka baca.

Saya naik kelas 9, perpustakaan sekolah sudah jadi, tidak ada lagi taman baca di depan kelas. Tapi tetap saja sampai lulus saya tidak pernah masuk perpustakaan. Namun, di kelas 9, jiwa membaca saya mulai tumbuh. Itulah awal saya menyukai literasi. Teman-teman saya tetap belum menyerah mencekoki saya dengan segala judul novel. Novel pertama yang membuat saya menyukai literasi berjudul Goodbye Happiness, karya Arini Putri. Terima kasih Veby telah meminjamkan novelnya.

Saat itu, saya sudah suka membaca beberapa novel dengan aliran fiksi. Hingga suatu ketika, saya memutuskan membeli buku dengan judul Kisah Sejati Ibu Yang Kehilangan Buah Hati, karya Xinran. Saya membeli buku itu di toko yang sangat sederhana, di pojok mal. Judul bukunya menarik, apalagi kisah tentang seorang ibu. Awalnya, saya pikir itu aliran fiksi. Tapi saya salah besar, buku itu terjemahan dari Tiongkok, diterbitkan penerbit Kompas.

Itu buku nonfiksi pertama yang saya baca dalam waktu 1 tahun. Serius, saya tidak bohong. Hanya memiliki kurang lebih 200 halaman, syukur-syukur saya tuntas membacanya. Buku itu menceritakan tentang nasib wanita Tiongkok, era 1990-an. Tiap babnya mampu membuat saya menangis.

Lalu, saya mulai meminjam novel kepada teman saya. Saya hanya mampu membaca 100 halaman dalam waktu 1 minggu. Waktu yang terbilang cukup lama untuk halaman segitu. Namun bagi saya itu sudah yang tercepat, daripada saya tidak baca sama sekali.

Saat sudah beberapa novel saya baca, tiba-tiba muncul keinginan menjadi seorang penulis. Awalnya, saya berpikir, saya tidak ingin hanya sekedar penonton saya ingin menjadi pemain. Saya mencoba nulis cerpen di laptop, sekarang laptopnya rusak nggak tahu cerpennya ke mana.

Tapi yang masih saya ingat di cerpen itu, bahasanya superduper acak-acakan. Itu karya pertama saya, sejak saya menyukainya literasi. Jiwa penulis saya mulai berkoar, saat saya membaca pepatah; “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama.”

Dari situ, tekad saya untuk menulis semakin besar. Setidaknya, saya tidak hanya meninggalkan nama, saya tidak hanya meninggalkan busuk, tapi meninggalkan karya yang akan selalu diingat walau raga saya tidak lagi ada. Membaca adalah jendela dunia, maka menulislah kau akan tahu petualangan terbaiknya. Salam literasi. Salam aksara. Salam sastra. Dan salam bahagia dari saya.

Sumber : rail. (@drhaay), 12 Juli 2019.
Auto Europe Car Rental