Benarkah Taliban Sudah Berubah Menjadi Lebih Moderat?
BENARKAH Taliban berubah jadi lebih moderat? Apakah mereka gak segalak dulu? Saya akan menjelaskann tentang Neo-Taliban ini sedikit. Gak mudah mastinya, tapi kita bisa lihat clue-nya.
Pertanyaan di atas muncul. Benarkah Taliban sekarang beda sama Taliban 20 tahun lalu? Kalau beda, bagaimana dampaknya pada Afghanistan?
Hal ini muncul karena juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, Taliban bilang kelompoknya akan menghormati hak perempuan, memaafkan yang menentang, dan memastikan Afghanistan aman.
Mereka meyakinkan dunia dan rakyat Afghanistan yang ketakutan bhw mereka telah berubah. Banyak yang meragukan pernyataan Mujahid. Ada banyak alasan:
1. Taliban bukan partai politik yang karenanya mudah kompromi. Mereka adalah gerakan yang sejak awal ingin menjalankan misi, yang mereka meyakini sampai ke sumsum: menegakkan syariat Islam tanpa kompromi.
Gak mudah buat kelompok ideologis untuk berubah begitu saja. Risikonya: ditinggal pengikut yang selama ini sokong mereka. Kalau cita-cita itu ditinggal, pengikutnya nanya: lalu apa bedanya Taliban dengan kelompok lain?
2. Pernyataan Mujahid itu bersayap. Ia tidak menjamin kebebasan perempuan, tapi “kebebasan perempuan dalam syariat Islam”. Kita tahu, penafsiran Taliban akan syariat itu seperti apa. Artinya, sebenarnya gak ada yang berubah kalau liat pernyataan ini.
3. Kalau pun pemimpin Taliban berubah, gak gampang mempraktikkannya. Gak mudah mengubah pemahaman kolot para milisi dan war lord yang mendukung mereka. Problem radikalisme dan HAM juga ada di mereka.
Bayangkan, pemerintah Afghanistan yang didukung AS saja selama 20 tahun gak bisa mengubah pandangan keislaman masyarakat Afghanistan, apalagi Taliban yang komitmen pada pemahaman yang moderat masih dipertanyakan.
Ingat, hubungan Taliban dengan para milisi dan war lord itu tidak hierarkis. Mereka otonom sehingga gak bisa diperintah gitu aja. Tapi, kita juga gak bisa menutup diri dari kemungkinan Taliban memang berubah:
A. Taliban di bawah Mullah Baradar dianggap lebih pragmatis, karena mereka kehilangan dukungan Saudi yang belakangan ini ingin dikesankan lebih moderat. Taliban kemudian mengalihkan pandangan ke semua arah mata angin: China, Rusia, dan AS.
Berbeda dengan Saudi di masa lalu, tentu Rusia, Cina, dan AS tidak meminta Taliban menerapkan syariat Islam dengan amat kaku dan keras. Mereka tentu punya keinginan lain. Investasi, misalnya.
Kok, Amerika juga dukung Taliban? Ingat, yang meminta pembebasan Baradar dari penjara Pakistan pada 2018 adalah AS. Utusan khusus AS, Zalmay Khalilzad, mengatakan, AS meminta pembebasan ini karena Baradar diharapkan membantu proses perdamaian.
Perdamaian apa? Saat itu, tahun 2018, mmg ada perundingan damai antara faksi-faksi Afghanistan di Qatar. Tapi mustahil AS 3 tahun lalu gak memprediksi pembebasan Baradar akan membuat Taliban lebih kuat dan mampu rebut pemerintahan.
Tidak ada makan siang yang gratis, tentu. Ada kekhawatiran AS lbh besar dari Taliban, yaitu ISIS-K. K di sini adalah kependekan dari Khorasan, wilayah yang meliputi Pakistan, Afganistan, Iran, dan sejumlah negara Asia Tengah.
Taliban dianggap bisa menandingi ekspansi ISIS-K yang mulai mengkhawatirkan. Selain karena memiliki kekuatan militer terbesar di Afganistan, Taliban adalah kelompok yang dipercaya oleh faksi-faksi untuk mengusung isu Islam.
Ini artinya, Afganistan tidak perlu mengimpor ISIS dari negara-negara Arab, karena mereka sudah punya Taliban. Dengan demikian, jualan khilafah Islamiyah ISIS diharapkan tidak laku.
Clash antara ISIS-K dan Taliban sudah mulai terjadi beberapa hari ini. Milih ISIS-K & Taliban seperti makan buah simalakama. Tapi, bagi Pakistan dan AS, Taliban diangap less evil karena beda dengan ISIS, Taliban gak mengusung ideologi khilafah global.
Mereka bahkan janji gak ekspor ideologinya ke negara lain. Hal ini paling gak sudah mereka lakukan pada 1996-2001. Memang aat ini kita gak bisa memastikan jawaban mana yang benar, karena keadaan masih di masa transisi. Beberapa bulan lagi, kita bisa melihat jawaban dengan lebih tepat.
Sumber: Qaris Tajudin (@QarisT), 5 September 2021.