Citra Editia Berani Membentak yang Berdebat
Gesekan kecil, bahkan besar, biasa terjadi di organisasi. Bisa terselesaikan ataua terabaikan. Kalau ada pembiaran tentu saja yang rugi adalah pengurus sendiri. Mau tidak mau, pimpinan tertinggi harus turun sendiri untuk mendamaikan mereka yang berkonflik.
Sebagai ketua organisasi Radio Kampus Fakultas Bisnis Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya), Citra Editia Putri Permatasario pernah dihadapkan pada situasi sulit. Dia melihat sebuah pertengkaran antardivisi.
Saat itu, Radio Kampus FBE sedang mengadakan rapat koordinasi menjelang berlangsungnya sebuah acara. Cewek 21 tahun ini kebetulan bertugas memimpin rapat. Nah, di situlah, terjadi perdebatan sengit antara ketua acara dengan bagian marketing.
"Ketua acara menuntut pihak marketing menutup dana. Tapi, anak marketing masih banyak pertimbangan. Segala penawaran juga jadi alasan. Misalnya, dari segi benefit, yang dirasa kurang menguntungkan kalau diterima," tutur mahasiswi semester enam ini.
Banyak penawaran masuk untuk acara mereka. Sebagian besar ditolak menjadi sponsor. Salah satunya, penawaran dari provider yang punya syarat cukup berat. Provider itu mengharuskan menjualkan kartu perdana terlebih dahulu dan menyediakan stan bazar untuk hotel.
Semua penawaran itu ditolak bagian marketing karena menganggap tugas mereka bukan jualan. Sebaliknya, menurut ketua acara itu merupakan peluang meminimalkan biaya. Dari situlah, terjadi perdebatan hebat sampai telontar makian, yakni 'bego' dari mulut ketua acara, membuat situasi rapat semakin panas.
Sebagai pimpinan rapat, Citra tidak tinggal diam. Dengan nada sedikit berteriak, dia menggebrak keduanya. "Kalau cari masalah terus, nggak akan ada selesainya. Sekarang yang dibutuhkan itu solusi." Situasi berubah hening. Tak seorangpun peserta rapat berani mengutarakan kata.
Cewek yang dinobatkan sebagai Yuk Sidoarjo 2011 ini lantas mendamaikan perdebatan, dengan menyodorkan masukan kepada kedua belah pihak. Sebagai ketua rapat, dirinya harus netral dan mengevaluasi, memberi kritik dan saran. Tidak ada yang dibenarkan tetapi saling mengoreksi.
"Bagian marketing tidak boleh sepihak mengambil keputusan tapi harus dipertimbangkan beberpa pihak lain juga," jelas Citra yang hobi bermain piano ini.
Sayangnya, meski sudah saling bisa meneria di forum rapat, perselisihan tidak berhenti. Sesudah rapat, kedua belah pihak melapor dan saling menjelekkan. Citra kembali harus bersikap netral dan bijaksana, dengan memberikan masukan kenapa salah satu pihak bersikap seperti itu.
"Aku bilang kepada ketua acara, mungkin marketing itu nggak mau soro, kalau kita disuruh jualan. Makanya dia mempertimbangkan itu. Kalau dari marketing, aku bilang, ketua acara lihat deadline yang mepet. Maka, dia emosi karena sangat butuh dana. Aku bilang harus sama-sama ngerti," jelasnya.
Di balik perselisihan antardivisi, acara yang mereka selenggarakan di kemudian hari itu berlangsung lancar. Bahkan, diakui cewek berambut panjang ini, kegiatannya tidak kekurangan dana sama sekali. (muhammad ghurobi)