Langkah Pertama Jepe di Kota Metropolis
SELEMBAR surat panggilan wawancara terlipat rapi di tangan JP Hartanto. Berkali-kali pemuda berusia 23 tahun itu membaca isinya, seolah ingin memastikan, kalau kesempatan yang selama ini ditunggunya benar-benar ada.
Harian Metropolis memanggilnya untuk mengikuti seleksi calon wartawan. Bagi orang lain, surat itu mungkin hanya selembar kertas. Bagi Jepe, merupakan pintu menuju masa depan yang selama ini dibayangkannya.
Sejak SMP, Jepe suka membaca dan menulis. Bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, koran, atau tulisan apa saja yang menarik perhatiannya. Dia juga senang menuangkan pikirannya ke dalam tulisan, meski saat itu belum tahu apakah kegemarannya kelak bisa menjadi sumber penghidupan.
Ketika mulai memikirkan masa depan, Jepe hanya mempunyai dua cita-cita. Menjadi dosen atau menjadi wartawan. Kalau menjadi dosen berarti dia bisa terus belajar sekaligus membagikan pengetahuan kepada orang lain.
Kalau menjadi wartawan memberinya kesempatan untuk menulis, bertemu banyak orang, dan mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat. Dua pekerjaan itu berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: keduanya dekat dengan dunia yang dicintainya.
Kini, kesempatan menjadi wartawan mulai terbuka. Jepe menemui bapak dan ibunya untuk meminta restu. Keputusan merantau ke Kota Metropolis bukan perkara kecil. Ia harus meninggalkan rumah, keluarga, dan kehidupan yang selama ini dikenalnya.
Bapaknya mendengarkan penjelasan Jepe tanpa banyak menyela. Di hadapannya, anak lelakinya itu tampak bersemangat, tetapi juga menyadari, perjalanan yang akan ditempuh tidak menjamin keberhasilan.
“Kalau memang itu sudah jadi niatmu, Bapak hanya bisa berdoa. Semoga lancar. Doa Bapak sama Ibu dari sini,” kata bapaknya.
Jepe mengangguk. “Terima kasih, Pak. Jepe akan berusaha sebaik-baiknya.”
Ibunya ikut berpesan agar Jepe menjaga kesehatan, berhati-hati di perantauan, dan tidak melupakan rumah meskipun nanti sudah sibuk bekerja.
Jepe mendengarkan semuanya. Tidak menjanjikan akan segera sukses. Hanya berjanji akan berusaha dan tidak gampang menyerah.
Beberapa hari kemudian, Jepe berangkat menuju Kota Metropolis dengan membawa pakaian secukupnya, dokumen yang diperlukan untuk seleksi, serta uang bekal yang harus digunakan sehemat mungkin.
Dia naik bus dari Terminal Umbulharjo, Kota Jogjadiningrat. Perjalanan menuju Kota Metropolis memakan waktu sekitar delapan jam. Saat itu belum ada jalan tol yang mempersingkat perjalanan seperti yang kelak dikenal orang.
Di dalam bus, Jepe duduk di samping seorang bapak-bapak yang sesekali mengajaknya berbincang. Percakapan mereka bermula dari pertanyaan sederhana tentang tujuan perjalanan, kemudian berlanjut ke urusan pekerjaan.
“Mau ke Metropolis, Mas?” tanya bapak itu.
“Iya, Pak. Saya mau ikut seleksi wartawan di Harian Metropolis.”
“Oh, wartawan. Masih muda sudah mau merantau.”
Jepe tersenyum kecil. “Mudah-mudahan diterima, Pak.”
“Sudah punya tempat tinggal di sana?”
Jepe menggeleng. Tidak ada kerabat atau kenalan dekat di Kota Metropolis. Hanya tahu, banyak pendatang tinggal di rumah kos, terutama di sekitar kampus.
“Kalau belum, coba cari kos di daerah Semolowaru,” saran bapak itu. “Kosnya masih terjangkau karena di situ dekat tiga kampus. Nanti temannya para mahasiswa. Banyak juga pendatang yang tinggal di sana.”
Jepe menyimpan saran itu dalam ingatannya. Dia tidak tahu apakah bapak itu akan menjadi orang pertama dan terakhir yang membantunya selama perjalanan, tetapi nasihat sederhana itu sangat berguna bagi seorang perantau yang belum mengenal kota tujuan.
Bus melaju melewati jalan-jalan antarkota. Jepe sesekali memandang keluar jendela, memikirkan seleksi yang akan dihadapinya, kemungkinan diterima bekerja, dan biaya hidup yang harus ditanggung sendiri.
Ada rasa cemas, tentu saja. Kecemasan itu tidak cukup kuat untuk membuatnya ingin berbalik pulang. Tapi dia sudah memilih jalannya.
Ketika bus akhirnya tiba di Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo, Jepe turun bersama penumpang lain. Suasana terminal terasa jauh lebih ramai daripada yang biasa dilihatnya di kampung halaman. Kendaraan datang dan pergi, suara kernet bersahutan, sementara para penumpang berjalan ke berbagai arah dengan urusan masing-masing.
Jepe merapikan barang bawaannya. Dia mencari kendaraan menuju Semolowaru. Ada bus kota yang berhenti di Terminal Bratang, tidak jauh dari Semolowaru.
Dengan berbekal petunjuk dari teman seperjalanan, dia mulai mencari rumah kos yang sesuai dengan kemampuan keuangannya. Tidak perlu bagus. Yang penting aman, bisa digunakan untuk tidur dan beristirahat, serta tidak menghabiskan terlalu banyak uang.
Setelah bertanya ke beberapa orang, dia menemukan sebuah rumah kos dua lantai. Bangunannya sederhana, bercat putih, dengan sejumlah kamar yang disewakan kepada mahasiswa dan pekerja.
Kamar mandinya digunakan bersama. Air untuk kebutuhan sehari-hari berasal dari PDAM karena air sumur di tempat itu berwarna kehijauan dan tidak layak digunakan untuk mandi maupun mencuci.
Jepe memeriksa kamar yang ditawarkan. Ukurannya tidak luas. Perabotnya pun terbatas. Namun, ia tidak sedang mencari tempat tinggal untuk bersantai. Ia membutuhkan tempat untuk memulai hidup.
“Berapa sewanya, Bu?” tanyanya kepada pemilik kos.
Setelah mendengar harganya, Jepe menghitung-hitung bekal yang dibawanya. Dia mempertimbangkan biaya makan, transportasi, dan kebutuhan selama mengikuti seleksi. Akhirnya, dia menyewa kamar itu.
Malam pertama di Kota Metropolis terasa berbeda. Di rumah, dia terbiasa mendengar suara keluarga dan mengetahui bahwa selalu ada orang yang bisa diajak bicara. Di kamar kos, hanya mendengar suara penghuni lain dari balik dinding dan bunyi kendaraan dari jalan.
Jepe duduk di tepi tempat tidur, mengeluarkan surat panggilan wawancara, lalu membacanya sekali lagi. Besok, dia akan mulai berjuang.
Seleksi di Harian Metropolis ternyata tidak sesederhana datang, memperkenalkan diri, lalu diterima bekerja. Jepe harus melewati beberapa tahap, mulai dari tes tertulis dan wawancara, praktik lapangan, psikotes, hingga pemeriksaan kesehatan.
Dalam wawancara, dia menjelaskan alasan ingin menjadi wartawan. Dia tidak berusaha mengaku sebagai orang yang sudah mengetahui segala hal. Pengalaman jurnalistiknya masih terbatas, tetapi ia menyampaikan kegemarannya membaca dan menulis serta kesediaannya belajar dari awal.
Jepe memahami, menyukai pekerjaan belum tentu berarti langsung menguasainya. Jika ingin menjadi wartawan yang baik, dia harus belajar memeriksa fakta, mengajukan pertanyaan, menyusun berita, dan memahami persoalan masyarakat dengan lebih teliti.
Tahap praktik lapangan membuatnya menyadari bahwa pekerjaan wartawan bukan sekadar menulis apa yang dilihat. Dia harus mencari informasi, memastikan keterangan, dan menyampaikan peristiwa secara jelas. Ada hal-hal yang tidak bisa disimpulkan hanya dari satu orang atau satu kejadian.
Jepe berusaha mengikuti setiap tahap sebaik-baiknya. Dia tidak tahu apakah hasilnya cukup untuk membuatnya diterima. Sambil menunggu kabar, ia tetap hidup hemat di rumah kos.
Ketika akhirnya pengumuman keluar, namanya tercantum sebagai salah satu calon wartawan yang lolos seleksi. Jepe diterima bekerja di Harian Metropolis dengan status karyawan dalam masa percobaan selama enam bulan.
Kabar itu membuatnya lega. Cita-citanya mulai menjadi kenyataan. Namun, dia segera mengetahui bahwa lolos seleksi bukan berarti perjuangannya selesai.
Selama masa percobaan, dia harus membuktikan dirinya layak menjadi wartawan. Dia perlu memahami kebiasaan kerja redaksi, belajar menulis berita sesuai standar perusahaan, dan menunjukkan bahwa ia bisa dipercaya menjalankan tugas.
Hari-harinya mulai diisi kegiatan liputan yang sebelumnya hanya dibayangkan melalui bacaan. Dia mengenal suasana ruang redaksi, melihat bagaimana berita dibahas, dan belajar bahwa tulisan yang menarik belum tentu layak diterbitkan jika faktanya belum cukup kuat.
Jepe juga belajar menerima koreksi. Ada tulisannya yang perlu diperbaiki, ada informasi yang harus diperiksa kembali, dan ada bagian yang menurutnya sudah bagus tetapi ternyata belum memenuhi standar redaksi.
Sesekali merasa kecewa, terutama ketika hasil kerjanya tidak sesuai harapan. Jepe berusaha tidak menganggap kritik sebagai penghinaan. Kalau memang ada yang salah, ia harus memperbaikinya.
Enam bulan berlalu.
Beberapa teman yang masuk bersamaan dengannya sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Jepe belum mendapat kabar serupa. Masa percobaannya diperpanjang tiga bulan lagi.
Jepe tentu kecewa. Dalam hati, ia sempat bertanya-tanya apakah kemampuannya memang belum cukup atau ada hal lain yang masih harus dibuktikannya.
Jepe tidak menjadikan nasib teman-temannya sebagai ukuran tunggal keberhasilannya. Dia memilih tetap bekerja, memperbaiki kekurangan, dan menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.
Tambahan tiga bulan itu terasa panjang. Uang harus tetap diatur dengan cermat, sementara dia belum bisa merasa benar-benar aman mengenai pekerjaannya. Dia juga belum berani meminta orang tuanya mengirimkan sepeda motor dari rumah.
Membawa kendaraan sendiri memang akan memudahkan mobilitasnya, tetapi ia tidak ingin meminta sesuatu sebelum status pekerjaannya jelas. Untuk sementara, mengandalkan angkutan umum dan berjalan kaki jika jaraknya memungkinkan.
Jepe menyesuaikan diri dengan keadaan, meskipun terkadang harus berangkat lebih awal atau pulang lebih lambat. Pada bulan kesembilan, kabar yang ditunggu akhirnya datang. Jepe dinyatakan lulus masa percobaan dan diangkat menjadi karyawan tetap Harian Metropolis.
Kali ini, dia membaca surat pemberitahuan itu dengan perasaan yang berbeda dari saat pertama menerima panggilan wawancara. Dulu, baru memperoleh kesempatan. Sekarang, telah melewati ujian awal untuk mempertahankan kesempatan itu.
Jepe pulang ke kamar kos dengan langkah ringan. Malam itu dia menghubungi orang tuanya untuk menyampaikan kabar baik. “Pak, Bu, Jepe sudah diangkat jadi karyawan tetap.”
Di seberang telepon, suara bapaknya terdengar lega. “Syukurlah. Berarti kamu sudah bisa bekerja dengan lebih tenang. Tapi tetap harus rajin dan hati-hati.”
“Iya, Pak.”
Ada satu hal lagi yang ingin disampaikan Jepe. Setelah sembilan bulan bertahan dengan angkutan umum, dia merasa sudah waktunya membawa sepeda motornya ke Metropolis.
“Pak, kalau ada waktu, Honda Supra Jepe bisa dipaketkan ke sini? Sekarang Jepe sudah jadi karyawan tetap. Nanti biaya pengirimannya Jepe ganti.”
Bapaknya tidak langsung menjawab. Dia mungkin sedang membayangkan sepeda motor yang selama ini digunakan Jepe di rumah, kini akan menemani anaknya mencari nafkah di kota lain.
“Ya, nanti Bapak urus. Yang penting kamu bisa menjaga motor itu baik-baik.”
“Siap, Pak.”
Beberapa waktu kemudian, Honda Supra milik Jepe tiba di Kota Metropolis. Bagi orang lain, sepeda motor itu mungkin hanya kendaraan biasa. Bagi Jepe, Supra itu adalah alat untuk bekerja, menghemat waktu, dan menjangkau tempat-tempat yang sebelumnya sulit dicapai dengan angkutan umum.
Jepe tidak membeli motor baru atau memilih kendaraan yang lebih mewah. Dia membawa motor yang sudah dikenalnya, sesuai dengan keadaan dan kemampuan keuangannya.
Ketika pertama kali mengendarainya menyusuri jalan-jalan Metropolis, Jepe merasa kehidupannya sedikit lebih mudah. Bisa berangkat meliput tanpa terlalu bergantung pada jadwal kendaraan umum. Ia juga bisa mengatur perjalanan dengan lebih leluasa.
Namun, dia tahu bahwa memiliki sepeda motor bukan berarti semua masalah telah selesai. Gaji tetap harus diatur, kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi, dan kepercayaan yang diberikan redaksi harus dijaga.
Rumah kos dua lantai dengan kamar mandi bersama itu masih menjadi tempat tinggalnya. Air PDAM tetap menjadi andalan penghuni, sementara sumur yang kehijauan tetap tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kamar Jepe masih sederhana, begitu pula barang-barang yang dimilikinya.
Belum ada rumah sendiri, belum ada tabungan besar, dan belum ada jaminan bahwa kariernya akan berjalan mulus. Yang ia punya adalah pekerjaan, sebuah Honda Supra, dan kesempatan untuk terus belajar.
Pada usia 23 tahun, Jepe telah memulai kehidupan yang diinginkannya. Dia meninggalkan rumah dengan sebuah surat panggilan wawancara, menghadapi sembilan bulan masa percobaan, lalu memperoleh tempat sebagai wartawan tetap di Harian Metropolis.
Perjalanannya masih panjang. Belum tahu berita apa yang kelak akan ditulisnya, siapa saja orang yang akan ditemuinya, atau persoalan apa yang suatu hari harus dihadapinya. Untuk saat ini, hanya ingin menjadi wartawan yang bekerja dengan sungguh-sungguh.
Jepe merapikan tas liputannya, memastikan kunci Honda Supra tersimpan di saku, lalu bersiap menjalani hari berikutnya. Di kota yang belum sepenuhnya dikenalnya itu, seorang wartawan muda baru saja memulai langkah pertamanya. (*)

