Misteri Kematian Lidya Angelina
JEPE berlari begitu turun dari angkot. Dia menuju halaman RS Metropolis. Jam menunjukkan pukul 08.17. Wiiiuuu! Wiiiuuu! Sebuah ambulans memasuki halaman rumah sakit dengan kecepatan yang masih terkendali. Petugas keamanan segera membuka jalur.Pintu belakang ambulans terbuka.
Dua petugas berpakaian medis turun, mengeluarkan brankar beroda yang ditutupi kain putih. Di bawah kain itu terbujur tubuh seseorang. Seorang perempuan.
Jepe memperhatikan gerak-gerik petugas yang mendorong brankar menuju pintu samping, melewati koridor yang mengarah ke kamar jenazah.
Di belakang ambulans, seorang laki-laki berkemeja putih turun tergesa-gesa. Wajahnya pucat. Tangannya terus menggenggam telepon genggam. Dia tidak melakukan panggilan. Hanya mengikuti brankar dari kejauhan.
Seorang petugas rumah sakit yang mengenal Jepe melintas di dekatnya. "Pak Samijan," panggil Jepe. "Pagi-pagi sudah ada kiriman?"
Samijan berhenti. Wajahnya yang semula biasa saja mendadak serius. "Kiriman apanya. Ini bukan paket belanja daring. Isinya manusia."
"Lho, saya kira paket. Soalnya datangnya pakai ambulans."
"Kalau paket, paling isinya sepatu. Ini urusannya sudah lain."
Jepe tidak membalas lelucon itu. Matanya mengikuti brankar yang kini memasuki koridor.
"Jane onok opi iki Pak?"
Samijan merendahkan suaranya. "Perempuan ditemukan meninggal di Hotel Bumi Indah. Polisi sedang menangani. Jenazah dibawa kemari untuk pemeriksaan."
Jepe segera membuka buku catatannya. "Namanya siapa Pak."
"Lidya Angelina. Katanya begitu."
"Umur?"
"Belum tahu."
"Penyebab meninggal?"
"Jenazahnya saja baru datang. Jangan minta saya menjelaskan cerita yang belum selesai."
Jepe tersenyum tipis. "Sepurane, Pak. Saya tunggu ceritanya selesai."
"Kalau begitu, tunggu di luar. Jangan sampai sampeyan ikut dimasukkan ke kamar jenazah gara-gara terlalu ingin tahu."
Samijan melanjutkan pekerjaannya. Jepe berdiri beberapa detik di depan pintu koridor. Ada sesuatu pada kedatangan ambulans tadi yang membuatnya tidak nyaman. Bukan karena tubuh di balik kain putih itu.
Dia sudah berkali-kali menyaksikan jenazah datang ke rumah sakit. Yang menarik perhatiannya justru laki-laki berkemeja putih yang mengikuti brankar.
Ketika seorang petugas menghentikannya di depan pintu kamar jenazah, laki-laki itu tidak bertanya tentang keadaan korban. Dia juga tidak mencoba mendekat.
Laki-laki itu malah melihat ke arah kamera pengawas yang terpasang di sudut langit-langit. Tiba-bita dengan gerakan cepat, memasukkan telepon genggam ke saku dan berjalan menjauhi koridor.
Jepe memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu utama. Kebetulan? Mungkin tapi dalam pekerjaan jurnalistik, kebetulan kadang menjadi pintu masuk menuju sebuah berita.
