Kisah Clara dan Kesukaannya Belajar Hal Baru
ANAK itu bernama Clara. Usianya 10 tahun. Tahun ajaran ini dia duduk di Kelas 4 SD. Ia tinggal bersama kakak perempuannya Feodora, ibu, dan ayahnya. Ayah dan ibu bekerja sebagai karyawan swasta di pabrik sabun di Surabaya.
Clara bersekolah di salah satu sekolah swasta ternama di kota Surabaya. Jarak sekolahnya lumayan jauh dari rumah. Di sana, dia mempunyai banyak teman yang baik dan peduli.
Suatu ketika, dia bertemu dengan anak yang nakal di kelasnya yaitu Ricky. Anak ini selalu usil dan suka mengganggu temannya, banyak teman tidak menyukai perbuatannya.
Ricky dan Clara pernah berdebat di ruang BK (Bimbingan Konseling) hanya masalah kecil yang dibesarkan oleh Ricky. Ia mempermasalahkan Clara yang suka tersenyum dan membantu orang lain.
Guru BK Bu Tuti menengahi mereka, “Ricky, sebaiknya kamu terima Clara apa adanya, memang Clara anaknya serius, kalau kamu tidak usil dan bersikap baik, maka semua teman termasuk Clara akan berteman dan menyayangimu.”
Pernah Clara menang dalam lomba menggambar bersama teman-teman semester lalu. Kali ini lomba vocal grup bahasa Mandarin. Walau awal-awal ditunjuk rasanya malas dan tidak bersemangat, karena vocal grup Mandarin adalah hal yang baru yang tidak pernah diikuti sebelumnya.
Hampir tiap hari pulang terlambat karena harus berlatih. Senang belajar bersama teman-teman yang beda kelas dan menjadi akrab dengan mereka. Kalau kompak dalam setiap gerakan pasti bisa menang.
Di rumah Clara mengulang kembali latihan sewaktu di sekolah. Sampai saat yang ditunggu tiba, tak lupa berdoa Clara dan teman-teman maju lomba. Puji Tuhan tim vocal grup mereka juara I.
Saat ujian kenaikan kelas tiba, Clara berusaha belajar sendiri dan mandiri. Apabila ada yang tidak mengerti dia bertanya kepada kakak, ayah atau ibu di rumah. Kakak dan kedua orang tua dengan senang hati menjelaskan.
Tak lupa Clara berdoa kepada Tuhan mohon kesehatan selama pelaksanaan ujian. Manusia boleh berusaha tetapi Tuhan yang menentukan. Clara minta ayah dan ibu membelikan vitamin dan rajin meminumnya.
Pada 10 Juni 2018, ada acara penerimaan rapor. Itu saat yang sangat menyenangkan bagi Clara, karena dia akan menerima rapor hasil jerih payahnya selama satu semester dan setelah itu Clara bisa menikmati liburan sekolah dengan segera.
Hasil rapor memuaskan ayah, ibu dan kakak bangga dengan hasil kerja kerasnya. Bu Guru wali kelas juga berpesan agar mempertahankan prestasi di Kelas 5.
Ketika liburan sekolah, bersama keluarga, mereka ke Bali. Di sana, Clara pergi ke Taman Nusa, di daerah Gianyar, Bali. Clara bisa belajar banyak tentang rumah adat beserta pakaian adat di sana.
Banyak pengunjung yang berusaha mencoba senjata dan alat-alat masak maupun alat tenun yang ada di dalam rumah adat. Di depan rumah Honai Papua, bertemu salah satu orang yang memakai Ewer baju adat Papua, dari suku Asmat.
Peraga baju Ewer: “Selamat siang, Dik?”
Clara: “Siang pak, boleh saya bertanya?”
Peraga baju Ewer: “Boleh Dik.”
Clara: “Bapak asalnya dari mana? Sudah lama Bapak bekerja di sini?”
Peraga baju Ewer : “Dari Papua, sudah 3 tahun.”
Clara: “Tidak bosan ya, Pak, setiap hari berdandan seperti ini?”
Peraga baju Ewer: “ Tidak, Dik. Kami senang menghibur pengunjung disini dan kami senang bisa mengajarkan budaya Papua supaya di kenal oleh generasi muda jaman now.”
Clara: “Wah, hebat sekali Bapak, bisa jadi teladan bagi kami untuk mempelajari budaya daerah dengan sungguh-sungguh dan melestarikannya. Boleh kita berfoto bersama, Pak?”
Peraga baju Ewer: “Mari-mari.”
Clara: “Terimakasih, Pak”
Sambil berlibur, tetap bersemangat memelajari budaya daerah yang beraneka-ragam di bumi Indonesia. Belajar tidak hanya di sekolah saja, di mana saja kita dapat belajar hal-hal yang baru. (Bernadet Erin Yulianto (4B/5)

